Demo Site

belajar bahasa inggris cepat tanpa grammar pertama kali di Indonesia

Wednesday, May 19, 2010

Peran Ilmu Ekonomi Pertanian Dalam Pembangunan Peradaban

belajar bahasa inggris cepat tanpa grammar pertama kali di Indonesia
Berikut ini bagian pertama dari petikan lengkap orasi ilmiah Bustanul Arifin, yang diberi judul “Peran Ilmu Ekonomi Pertanian Dalam Pembangunan Peradaban: Sebuah Refleksi Untuk Reposisi”, disampaikan dalam rangka Orasi Ilmiah sebagai Guru Besar Ilmu Ekonomi Pertanian di Gedung Serbaguna Universitas Lampung, 20 Februari 2006.

Reposisikan Ilmu Ekonomi Pertanian Untuk Membangun Peradaban
IImu ekonomi pertanian merupakan salah satu cabang tertua dari ilmu ekonomi yang dikembangkan berdasarkan prinsip-prinsip kelangkaan dan pilihan. Kandungan sumberdaya pada suatu wilayah menjadi landasan pengembangan konsep keunggulan komparatif yang menjadi esensi utama perdagangan barang dan jasa. Strategi aplikasi atau turunan konsep di atas kemudian dikenal sebagai keunggulan kompetitif, yang berkembang sangat pesat dalam praksis dan peradaban umat manusia dalam proses industrialisasi dan globalisasi saat ini.

Dalam konteks tersebut, ilmu ekonomi menempatkan sektor pertanian atau basis sumberdaya alam sebagai landasan utama pembangunan ekonomi suatu bangsa. Proses transformasi sektor pertanian yang mampu menghasilkan produksi atau surplus pertanian di tingkat domestik dalam jumlah besar juga dianggap sebagai syarat pokok pertumbuhan ekonomi, pembangunan jati diri dan identitas suatu bangsa, dan bahkan mewarnai tahapan peradaban serta interaksi antarpelaku dalam pergaulan dunia yang semakin kompleks.

IImu ekonomi sendiri berkembang melalui perjalanan sejarah peradaban yang tidak terlalu gemilang, terutama proses kolonialisme, imperialisme, dan perbudakan yang sama sekali bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan secara universal. Semangat ekspansionis yang ditunjukkan oleh segelintir negara di Eropa dan negara besar lainnya bertemu dengan semangat penaklukan daerah jajahan, sekaligus penguasaan kekakayaan alam dan peradabannya. Asia Tenggara, Afrika dan Amerika Latin yang sangat kaya rempah-rempah dan sumberdaya alam menjadi ajang kolonialisme dan arena imperialisme yang sekaligus merupakan perwujudan ekspansi kekuasaan tentorial.

Sejarah Revolusi Industri di Inggris abad ke-19 memang diakui sebagai salah satu tonggak modernisasi ekonomi dan penerapan prinsip-prinsip efisiensi dalam perekonomian. Di dalam negeri, Revolusi Industri ikut memacu proses industrialisasi dan pertumbuhan ekonomi, yang kadang diwarnai oleh pemusatan aset dan modal pada sedikit pelaku ekonomi. Efisiensi transportasi sangat terbantu oleh penemuan kapal uap dan pembukaan Terusan Suez, yang akhirnya mampu mempersingkat waktu tempuh pelayaran dari Dunia Barat ke Timur, yang semakin menjadi insentif bagi kaum imperialis untuk lebih menguasai tanah jajahan baru.

Tu1isan ini adalalah sebuah refleksi penelusuran perjalanan ilmu ekonomi pertanian, meliputi kelahiran, modifikasi, integrasi dengan ekonomi pembangunan, masa keemasan dalam era perubahan teknologi, dan keterbatasannya dalam keberlanjutan pembangunan. Refleksi ini adalah pelajaran berharga untuk melakukan reposisi dan rekonstruksi ilmu ekonomi pertanian ke depan

Dari Usaha tani ke Pembangunan Ekonomi
Pada awal kelahirannya, ilmu ekonomi pertanian lebih banyak peduli pada manajemen usahatani, yang mengalami tantangan besar pada masa Perang Dunia I, yaitu tingginya permintaan bahan pangan serta kelangkaan tenaga kerja di sektor pertanian. Sebelum perang, peningkatan produksi pertanian dapat dengan mudah dicapai melalui perluasan lahan pertanian dan intensifikasi usahatani karena tenaga kerja nyaris bukan hambatan berarti, apalagi dapat dengan mudah diperoleh dengan harga yang murah dan bahkan tidak berharga sama sekali pada skema perbudakan, terutama di Amerika Serikat (AS) dan Eropa.

Persoalan efisiensi teknis dan efisiensi ekonomis menjadi tema sentral dalam ekonomi pertanian, tentu saja beserta keterkaitan dengan kebijakan penetapan harga produk pertanian, dalam hukum pennintaan dan penawaran yang telah berkembang pesat sebelumnya. Studi akademik lebih banyak diarahkan pada organisasi usaha tani dan praktik budidaya pertanian. termasuk peternakan dan perikanan, keterkaitannya dengan faktor-faktor yang menentukan produksi dan keuntungan usahatani tersebut. Hasil-hasil studi akhirnya digunakan untuk membantu petani atau usahatani yang tidak berproduksi secara menguntungkan agar mengikuti praktik usahatani yang baik dan benar, agar pendapatannya meningkat. Langkah sinergisme seperti itu mampu meningkatkan produksi pertanian dan dapat menanggulangi pertambahan penduduk yang mulai semakin cepat.

Ketika Perang Dunia I pecah, ilmu ekonomi pertanian mulai lebih peduli pada dimensi global dari persoalan suplai bahan pangan, kebutuhan tenaga kerja, standar biaya produksi pertanian dan peran strategis koperasi dalam memperbaiki manajemen usahatani yang lebih menguntungkan dan membawa kesejahteraan bagi umat manusia. Peran yang dimainkan ilmu ekonomi pertanian pada saat itu tentu lebih banyak defensif, dalam arti hanya mampu bertahan membenahi persoalan-persoalan yang ditimbulkan oleh perang atau hegemoni para politisi yang haus kekuasaan, tanpa menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan peradaban yang mengisinya. Akibatnya, kontribusi ilmu ekonomi pertanian lebih banyak berorientasi ke dalam, misalnya terlalu memperhatikan persoalan dalam negeri sendiri, dan maksimal para sekutunya dalam perang, sesuatu yang seringdiklaim sebagai persoalan global.

Depresi besar dan resesi hebat yang melanda AS pada 1930-an sebenamya turut mewarnai perkembangan ilmu ekonomi pertanian, karena sektor pertanian dilanda persoalan yang tidak kalah beratnya dengan persoalan yang diderita sektor industri. Adalah George F. Warren, seorang petani dan profesor di Universitas Cornell (New York) dan beberapa pengikutnya yang berperan cukup besar dalam perkembangan ilmu ekonomi pertanian, bahkan ekonomi moneter dan ekonomi pembangunan pada umumnya. Dengan konsistensi yang sangat tinggi antara tulisan, ucapan dan tindakan, para ekonom pertanian ini merekomendasikan dan melaksanakan legislasi pertanian AS atau yang lebih dikenal dengan “The New Deal” itu. Tidak secara berlebihan jika ada yang menyimpulkan bahwa tidak ada kelompok ekonomi mana pun selain kelompok ekonomi pemnian yang sangat berpengaruh dalam perumusan dan administtasi kebijakan publik. Hal tersebut karena ciri khas ilmu ekonomi pertanian adalah memang dilandaskan pada penelitian mendalam, pendidikan dan pengajaran spartan, dan aplikasi lapangan secara nyata, yakni dengan perumusan masalah dan orientasi penyelesaiannya secara berkesinambungan.

Di satu sisi, terobosan pemikiran ke luar tersebut cukup menggembirakan, namun di sisi lain perkembangan ilmu ekonomi pertanian tidak terlalu pesat sampai dengan berakhirnya Perang Dunia II. Banyak negara baru yang lepas dari penjajahan tidak begitu saja mampu melepaskan ketergantungannya pada pola pikir kolonial, jika tidak dapat dikatakan mewarisi paradigma pembangunan ekonomi yang masih fokus pada pertumbuhan industri dan perkotaan. Sektor pertanian lebih banyak dilihat dan diperlakukan sebagai sektor residu yang hanya berfungsi sebagai pemasok tenaga kerja murah bagi sektor industri dan manufaktur. Akibatnya, sektor industri manufaktur dan jasa berkembang cukup pesat, yang sekaligus menandai modernisasi dalam strategi pembangunan ekonomi, walaupun “agak terlepas” dari sektor pertanian karena struktur dualistik yang menyelimuti keduanya.

Pemikiran ekonomi dualistik tersebut juga sangat dipengaruhi oleh fakta dualisme sosiologis yang dikembangkan oleh J.H. Boeke, seorang ilmuwan asal Belanda, setelah melakukan penelitian cukup lama tentang perkebunan dan pertanian di daerah jajahan, terutama di Jawa dan Sumatera. Dalam kerangka dualistik itu, terdapat hipotesis bahwa aktivitas ekonomi di sektor modem (Barat dan enclave Barat) dipicu kebutuhan ekonomis, sedangkan aktivitas ekonomi di sektor tradisional (Timur) hanya dipicu oleh kebutuhan sosial yang hanya untuk memenuhi kebutuhan subsisten. Di sana implisit bahwa tidak akan ada gunanya membawa ide-ide baru, kelembagaan dan teknologi baru ke tengah-tengah masyarakat tradisional. Hipotesis inilah yang menjadi justifikasi rasional dalam pengembangan industrialisasi dan mengabaikan pembangunan pertanian.

Varian dari hipotesis dualistik itu terdiri dari beberapa pemikiran, misalnya yang cukup populer adalah dualisme enclave yang menggambarkan suatu organisasi produksi pertanian, yang teridiri dari enclave kecil masyarakat modem (inti) dikelilingi oleh lautan masyarakat tradisional (plasma). Enclave melakukan ekstraksi komoditas primer (perkebunan dan tambang) dan aktivitas ekspor, juga mengimpor tekonologi hemat tenaga kerja. Dalam hal ini, tentu tidak terlalu banyak aktivitas yang dilakukan oleh sektor tradisional, kecuali eksploitasi sumberdaya alam semata.

Perkembangan pemikiran ekonomi dualistik ini sebenarnya sangat sejalan dengan hipotesis surplus tenaga kerja yang terjadi di sektor pertanian dan perkembangan teknologi yang terjadi di sektor industri dengan menjadi andalan argumen dalam karya-karya Arthur Lewis. Asumsi yang digunakan adalah eksistensi penduduk dengan produktivitas tenaga kerja sangat rendah, bahkan berada di bawah tingkat upah. Di sini terdapat pengangguran tersembunyi, karena produktivitas tenaga kerja nyaris sama dengan nol, sehingga apabila dilakukan pemutusan hubungan kerja pun, maka produksi dipastikan tidak akan berkurang. Proses pembangunan ekonomi adalah transfer tenaga kerja dari sektor tradisional (yang tidak banyak menambah produktivitas) ke sektor modern (yang hasilnya dapat digunakan untuk reinvestasi di peralatan, mesin, banngunan) dan masih dapat ditingkatkan.

Fondasi kapitalistik inilah yang menjadi karakter dari Arthur Lewis, yang akhirnya berkembang kepada hubungan antara negara maju dan negara berkembang, sesuatu yang fundamental dalam teori ekonomi pembangunan. Arthur Lewis kemudian diberi Hadiah Nobel Bidang Ekonomi pada tahun 1979, bersama-sama dengan Theodore w. Schultz.

Proses industrialisasi dilaksanakan dengan perbedaan yang amat prinsip, yaitu bahwa sektor industri manufaktur (modern) dijalankan dengan prinsip maksimisasi keuntungan biasa; sedangkan sektor pertanian (tradisional) dijalankan dengan norma-norma konvensional, bukan prinsip-prinsip produksi marjinal. Jadi, apabila konsep kelebihan tenaga kerja memang diartikan sebagai tingkat produktivitas marjinal yang mendekati nol, maka tingkat alokasi produksi dalam sektor perrtanian hampir tidak mungkin untuk mengikuti prinsip-prinsip persaingan pasar sempurna.

Artinya, tingkat upah buruh di sektor pertanian terlalu kecil untuk sekadar bertahan hidup, sehingga suatu norma tertentu terkadang dijadikan basis pengambilan keputusan alokasi produksi. Proses industria1isasi yang dicirikan oleh karakter dualistik tersebut umumnya menghadapi kondisi asimetri produksi dan asimetri organisasi. Asimetri produksi maksudnya adalah bahwa penggunaan faktor produksi modal tidak digunakan sepenuhnya dalam sektor pertanian dan lahan tidak digunakan sepenuhnya dalam sektor industri. Sedang asimetri organisasi maksudnya tingkat penerimaan upah di kedua sektor tersebut tidak akan mencapai keseimbangan karena perbedaan produktivitas marjinal tenaga kerja seperti telah disampaikan di atas.

Sebagaimana disebut sebelumnya, pasca Perang Dunia II itulah i1mu ekonomi pertanian mulai menunjukkan perkembangan yang cukup pesat, terutama setelah ada integrasi analisis dengan ekonomi pembanguna, sangat kontras dengan kondisi pada periode perang. Beberapa pemikiran dan karya para ekonom pertanian seakan tidak mampu menggugah para praktisi dan perumus kebijakan di setiap negara. Periode kelabu dan suasana perang pasti bukan waktu yang kondusif untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, walaupun sebenarnya manusia tidak pemah berhenti berfikir. Setelah beberapa tahun kemudian, barulah khalayak memberikan apresiasi kepada para ekonom pertanian sekaliber Theodore W. Schultz yang meletakkan dasar-dasar pemikiran tentang pentingnya pembangunan pertanian dalam pertumbuhan ekonomi, di mana pun di dunia. Schultz adalah seorang ilmuwan, peneliti, manajer, wiraswasta, katalis intelektual, dan ekonom pertanian tangguh alumnus Universitas Wisconsin-Madison yang mengembangkan karier akademiknya di Universitas Chicago.

Ketekunannya mendalami persoalan pembangunan ekonomi, dan proses pencariannya untuk menemukan rumusan dan pencerahan kebijakan yang mengarah pada kesejahteraan umat manusia. Sebagaimana diketahui, T.W. Schultz akhirnya dianugerahi Hadiah Nobel Bidang Ekonomi pada tahun 1979, bersama Arthur Lewis dari Universitas Princeton, sebagaimana diuraikan sebelumnya. Schultz secara konsisten menantang pemikiran hipotesis “produk marjinal sama dengan nol” yang dikembangkan oleh teman sekaligus lawan berdebatnya Arthur Lewis, dan berargumen bahwa pendidikan petani dapat menjadi salah satu investasi dengan biaya rendah dan mampu menghasilkan tambahan pendapatan tinggi yang permanen. Inilah salah satu kontribusinya yang sangat berharha bagi ilmu ekonomi.

Dekade 1960-an merupakan salah satu titik kulminasi dalam perkembangan khazanah ilmu ekonomi pertanian ketika paradigma bergeser menjadi “keseimbangan pertumbuhan ekonomi”. Sektor pertanian perlu mencapai tingkat pertumbuhan tertentu agar mampu lebih sejajar dan kompatibel dengan pembangunan sektor-sektor lain dalam ekonomi. Kontribusi pemikiran dari Simon Kuznets dan John Mellor sangat besar dalam meletakkan fondasi dasar bagi analisis tentang peran sektor pertanian dalam proses pembangunan. Hampir semua pemahaman umum tentang peran sektor pertanian dalam pembangunan ekonomi yang dipercaya sampai sekarang adalah hasil karya ekonom pertanian pada dekade 1960an tersebut. Misalnya, pemahaman tentang sektor pertanian sebagai penyedia pangan, penghasil devisa dari ekspor, pemasok tenaga kerja bagi industri, dan stimulus pasar bagi pengembangan sektor industri adalah sedikit saja kontribusi besar yang sulit terlupakan.

Prinsip yang diperjuangkan para ekonom pertanian ini cukup sederhana, namun menyentuh sendi-sendi kehidupan perekonomian, misalnya bahwa laju penyediaan bahan pangan minimal harus sama atau lebih besar dari laju permintaan pangan, yang sangat ditentukan oleh tingkat pertumbuhan penduduk, pendapatan serta elastisitas atau persentase pendapatan untuk konsumsi pangan. John Mellor terus konsisten memperjuangkan fungsi strategis sektor pertanian sebagai pengganda pendapatan dan pengganda lapangan kerja, yang sekaligus sangat menentukan proses perubahan teknologi dan industrialisasi baik di negara berkembang, maupun di negara maju. Simon Kuznets lebih banyak peduli pada persoalan pembangunan ekonomi dalam keterkaitannya dengan pemerataan pendapatan, yang digambarkannya laksana kurva U-terbalik. Seperti diketahui, Simon Kuznets akhirnya memperoleh Hadiah Nobel Bidang Ekonomi pada tahun 1971 karena kontribusinya pada i1mu ekonomi.

Ekonomi Pertanian dalam Era Perubahan Teknologi
Era perubahan teknologi yang sangat pesat sebenarnya telah dimulai pada peridoe 1960 dan 1970-an dan berlanjut sampai dekade 1980-an. Ilmu ekonomi pertanian memperoleh pelajaran sangat berharga dari proses perubahan peradaban, yang nyaris mengubah berbagai sendi-sendi kehidupan manusia. Perubahan teknologi pertanian tidak terlalu pesat pada dekade 1990-an dan awal abad 21 ini, kecuali rekayasa genetika dan bioteknologi yang menyisakan tantangan tersendiri bagi ekonomi pertanian.

Pada awal 1970-an fokus kajian ekonomi pertanian lebih banyak pada aspek ekonomi mikro dari sektor pertanian, atau tepatnya pada teori harga dan kebekerjaan pasar. Secara mikro pula, pendalaman tentang keputusan atau tingkah laku individu dalam hal produksi, konsumsi dan perdagangan memang sangat dominan. Jadi, keterbatasan sumberdaya pertanian --lahan, tenaga kerja, modal, waktu dan lain-lain-- menjadi salah satu kajian yang dominan dalam pengembangan alat analisis dan pendalaman teori ekonomi pertanian, karena para aktor ekonomi memang harus memilih dan melakukan alokasi sumberdaya yang paling efisien menurut ukuran yang baku.

Di sanalah, misalnya, dalam bidang produksi peran perubahan teknologi menjadi sangat dominan, karena dalam prinsip-prinsip ekonomi, teknologi baru tidak hanya mampu meringankan konstrain, tetapi juga mampu menambah pilihan yang tersedia. Dalam hal konsumsi, tambahan pendapatan tentu saja mampu memperlebar konstrain atau menambah pilihan barang yang dapat dikonsumsi. Aktivitas bidang pengolahan dan perdagangan sangat diuntungkan dengan perubahan teknologi karena menekan biaya pengolahan, mengurangi biaya transportasi, menghemat waktu dan tempat dan sebagainya. Ilmu ekonomi pertanian senantiasa ditantang untuk menemukan strategi kombinasi produksi dan alokasi sumberdaya dalam pengolahan dan perdagangan serta manajemen kepuasan dan kemanfaatan dalam hal konsumsi, yang semuanya bermuara pada tingkat efisiensi baik secara teknis, maupun secara ekonomis.

Ketika ekonomi pertanian semakin memperoleh tempat di tengah masyarakat, maka perubahan teknologi berikut ini menandai kehidupan dunia pertanian dan peradaban manusia umumnya. Di antaranya adalah penemuan varietas unggul baru dalam komoditas pangan biji-bijian, penambahan zat hara tanah dalam bentuk pupuk buatan, penanggulangan hama dan penyakit tumbuhan dengan bahan kimia, pengaturan populasi tanaman, serta manajemen pengaturan air irigasi dan drainase, dan sebagainya. Era perubahan teknologi yang sangat pesat itulah yang kemudian dikenal dengan sebutan Revolusi Hijau, karena memang ditujukan untuk meningkatkan produksi pertanian terutama bahan pangan, sebagai jawaban para ilmuwan lain terhadap ancaman kekurangan pangan dan kelaparan yang begitu mudah dijumpai di banyak tempat.

Revolusi Hijau telah mampu menyelamatkan manusia dan jenis peradabannya dari kepunahan atau kematian karena kelaparan, yang sekaligus memupus keraguan aliran pemikiran pesimisme ala Thomas Malthus dan pengikutnya. Lonjakan produksi pangan dan biji-bijian yang dihasilkan oleh teknologi baru dalam hal benih dan varietas unggul baru serta bahan kimia yang menjadi pupuk dan pestisida tercatat sampai pangan 4-5 kali lipat dari sebelumnya, sesuatu yang tidak pemah terbayangkan sebelumnya.

Para ekonom pertanian sering menyebutnya dengan teknologi biologis-kimiawi, yang sangat diandalkan pada lahan sempit dengan penduduk yang padat, sekaligus untuk membedakannya dengan teknologi mekanis yang mengandalkan mesin dan alat pertanian yang sangat memadai untuk areal luas dengan tenaga kerja yang terbatas.

Yujiro Hayami asal Jepang, adalah salah satu dari sedikit ekonom pertanian Asia yang sangat berperan dalam memajukan peradaban bangsa karena ketekunannya melakukan analisis tingkah lahu petani dalam keterkaitannya dengan perubahan teknologi ini. Cerita sukses Jepang, Taiwan, dan bahkan Indonesia dalam melesatkan produksi padi dan tanaman biji-bijian lain sangat berkaitan erat dengan pengembangan varietas unggul yang sangat responsif terhadap pupuk anorganik. Dukungan infrastruktur irigasi, jalan desa, ketersediaan faktor-faktor produksi teknis seperti pupuk, pestisida, dan benih itu sendiri juga sangat berperan. Kendala produksi karena keterbatasan lahan dapat diatasi dengan pengembangan teknologi biologis-kimiawi, yang lebih dikenal dengan Revolusi Hijau tersebut.

Dalam hal teknologi mekanis, ekonomi pertanian melihatnya sebagai suatu respons rasional karena kecilnya rasio lahan terhadap tenaga kerja, sebagaimana yang diadopsi di negara-negara dengan areal lahan sangat luas, seperti di Amerika Serikat, Eropa Barat, Rusia dan lain-lain. Aplikasi teknologi mekanis sering juga dianggap sebagai varian dari Revolusi Industri, yang telah berlangsung sejak abad 19, walaupun para ekonom pertanian belum terlalu sepakat tentang keterkaitannya dengan Revolusi Hijau atau revolusi di dunia pertanian tersebut.

Maksudnya, revolusi pertanian bukan sekadar penerapan atau adopsi metode-medote industrialisasi kepada proses produksi pertanian. Jika di industri proses mekanisasi merangsang terspesialisasinya tenaga kerja, di pertanian proses mekanisasi mengandung dimensi ruang dan waktu yang amat rumit. Keterpautan waktu antara pengolahan lahan, tanam, penanggulangan gulma, hama dan penyakit, panen dan sebagainya itu memang memerlukan mesin pertanian spesialis khusus. Pada sistem pertanian yang sangat mekanis, mobilitas dan spesialisasi seringkali mengakibatkan biaya investasi per tenaga kerja yang lebih tinggi dari pada di sektor industri. Hal itu berarti bahwa teradopsinya mekanisasi dalam bidang pertanian adalah untuk meningkatkan produktivitas tenaga kerja sektor pertanian itu sendiri. Singkatnya, perkembangan proses mekanisasi pertanian memiliki tujuan untuk meningkatkan produksi per tenaga kerja atau dalam hal ini untuk memperluas lahan produktif melalui proses ekstensifikasi pertanian.

Persoalan menjadi sedikit lebih rumit ketika dihadapkan pada pertanyaan apakah proses perubahan teknologi itu merupakan faktor eksogen dalam suatu sistem ekonomi --di sini berarti pengembangan kedua jenis teknologi merupakan produk atau hasil kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi-- ataukah proses perubahan teknologi itu merupakan faktor endogen suatu sistem ekonomi. Dalam suatu sistem perekonomian yang dinamis, perubahan harga permintaan produk dan harga penawaran faktor produksi tidaklah dapat dipisahkan. Misalnya, ketika permintaan terhadap bahan makanan naik karena naiknya jumlah penduduk atau meningkatnya pendapatan per kapita, permintaan terhadap faktor produksi tersebut ikut naik secara proporsional.

Artinya, kenaikan permintaan tersebut mengakibatkan berubahnya harga relatif faktor-faktor produksi. Akibat berikutnya adalah bahwa tingkat pendapatan --termasuk distribusinya di kalangan para pemilik faktor produksi-- berubah sehingga hal tersebut kembali mempengaruhi permintaan secara keseluruhan.

Prinsip-prinsip inilah yang menjadi cikal-bakal konsep keseimbangan umum dalam ekonomi, yang kelak berkembang sangat pesat sebagai salah satu analisis lebih komprehensif terhadap berbagai fenomena kehidupan manusia.

sumber : http://www.tokohindonesia.com/ensiklopedi/b/bustanul-arifin/biografi/04.shtml

1 komentar:

khani said...

mampir nich...
oh ea,, ada sedikit info tentang kayujabon, mungkin ada yang pernah tau tentang kayu jabon.
ok,, SALAM....

Post a Comment

Silahkan berikan komentar, kritik, saran serta tambahan untuk tulisan diatas....

Related Posts with Thumbnails