Demo Site

belajar bahasa inggris cepat tanpa grammar pertama kali di Indonesia

Sunday, May 30, 2010

Akuntansi Pertanggungjawaban

belajar bahasa inggris cepat tanpa grammar pertama kali di Indonesia

Akuntansi pertanggungjawaban menurut definisi Hansen dan Mowen adalah sebagai berikut: “Responsibility Accounting is a system that measures the results of each responsibility center according to the information managers need to operate their centers” (Hansen dan Mowen 2003:530).

Akuntansi pertanggungjawaban adalah sebuah sistem yang mengukur perencanaan (dengan anggaran) dan pelaksanaan (dengan hasil aktual) dari tiap-tiap pusat pertanggungjawaban.

Dari definisi diatas dapat diambil kesimpulan bahwa akuntansi pertanggungjawaban merupakan suatu sistem yang dirancang untuk mengakumulasikan dan melaporkan biaya, serta mengukur hasil dari tiap level pusat pertanggungjawaban, sehingga apabila terjadi penyimpangan dapat ditelusuri penyebab dan penanggungjawabnya. Akuntansi pertanggungjawaban menunjukkan bermacam-macam konsep dan alat yang digunakan untuk mengukur kinerja karyawan dan departemen dalam mencapai tujuan atau behavior congruence.


2.1.3. Pengertian Pusat Pertanggungjawaban

Pusat pertanggungjawaban menurut Charles T. Horngren, Gary L. Sundem dan William O. Stratton adalah sebagai berikut: “A Responsibility Center is a set of activities assigned to a manager, a group of managers, or other employees” (Horngern et. Al 1999:331).

Pusat pertanggungjawaban merupakan suatu tingkatan bisnis dimana manajer mempunyai pertanggungjawaban untuk melaporkan aktivitasnya dan mempertanggungjawabkan aktivitas yang telah dilakukannya, dan dalam pelaksanaannya manajer pusat pertanggungjawaban dibantu oleh manajer lain dan pekerja-pekerja.

2.1.3.1 Tipe Pusat Pertanggungjawaban

Menurut Atkinson dan kawan-kawan membagi pusat pertanggungjawaban menjadi empat tipe, yaitu (2001:522):

1. Cost Center (Pusat Biaya)

2. Revenue Center (Pusat Pendapatan)

3. Profit Center (Pusat Laba)

4. Investment Center (Pusat Investasi).

1. Cost Center (Pusat biaya)

Pusat biaya menurut Atkinson, Hilton dan kawan-kawan adalah sebagai berikut: “A cost center is an organization subunit, whose manager is responsible for the cost of activity for which a well-defined relationship exists between inputs and outputs” (Hilton et. Al 2003:758).

Dan dari pernyataan diatas, dapat diambil kesimpulan yaitu bahwa pusat biaya adalah suatu subunit dalam organisasi yang mengontrol biaya dari aktivitas produksi yang dilakukan dan tidak mengontrol pendapatan dan investasi, serta ada pembatasan antara masukan dan keluaran karena adanya tanggungjawab biaya yang harus dipertanggungjawabkan oleh manajer.

Pusat biaya juga mengkonsumsi masukan dan menghasilkan keluaran, namun keluaran pusat biayanya tidak diukur dalam bentuk pendapatan. Hal ini disebabkan karena manajer pusat biaya tidak dapat mengendalikan pendapatan penjualan atas keluaran yang dihasilkannya dan keluaran pusat biaya tidak dapat atau sulit diukur secara kuantitatif.

  1. Revenue Center (Pusat pendapatan)

Menurut Atkinson, Kaplan, Banker dan Young: “A Revenue Centers are responsibility centers whose members control revenues, but no control either the manufacturing or the acquisition cost of the product or service they sell or the level of investment made in responsibility centers”. (Atkinson et. Al 2001:527).

Pusat pendapatan merupakan bagian dari pusat pertanggungjawaban yang mengontrol pendapatan, tetapi tidak mengontrol manufakturing dan biaya akuisisi dari produk atau jasa yang dijual atau tingkat investasi yang dipakai oleh pusat pertanggungjawaban dan manajernya memegang tanggung jawab untuk menentukan pendapatan subunitnya. Jadi pusat pendapatan adalah pusat pertanggungjawaban di dalam suatu organisasi yang prestasinya dinilai berdasarkan pendapatan dan tidak mengontrol biaya serta tingkat investasi. Ukuran prestasi pusat pertanggungjawaban ini yang terpenting adalah pendapatan dan hanya biaya yang dapat dikendalikan langsung oleh setiap pusat pendapatan.

  1. Profit Center (Pusat laba)

Atkinson dan kawan-kawan mendefinisikan pusat laba sebagai berikut:

Profit Centers are responsibility centers in which managers and other employees control both the revenues and the costs of the product or service they deliver” (Atkinson et. Al 2001:528).

Pusat laba merupakan pusat pertanggungjawaban yang manajernya memiliki tanggungjawab untuk mengontrol pendapatan dan biaya yang dikeluarkan untuk produk atau jasa yang dihasilkan, tidak mengontrol tingkat investasi.

Pusat laba prestasinya dinilai atas dasar selisih antara pendapatan dengan biaya dalam pusat pertanggungjawaban yang dipimpinnya. Pada umumnya pusat laba dibentuk jika perusahaan mempunyai usaha yang bervariasi sifatnya sehingga manajemen puncak mendelegasikan wewenangnya ke manajer yang lebih rendah.

  1. Investment Center (Pusat investasi)

Menurut Hilton pusat investasi adalah sebagai berikut: “A investment center is an organizational subunit whose manager is held accountable for the subunit’s profit and the invested capital used by the subunit to generate its profit” (Hilton et. Al 2003:759).

Pusat investasi mengharuskan manajer dan karyawannya mengontrol pendapatan, biaya dan tingkat investasi dalam pusat pertanggungjawaban, karena manajernya bertanggung jawab untuk keuntungan subunitnya dan penggunaan modal atau investasi ke dalam subunitnya akan menghasilkan laba. Jadi pusat investasi dalam suatu organisasi yang mempunyai pengendalian atas biaya dan pendapatan serta pengendalian atas dana investasi agar memperoleh laba yang lebih besar.

Sunday, May 23, 2010

Definisi Pusat Laba

belajar bahasa inggris cepat tanpa grammar pertama kali di Indonesia
A. DEFINISI PUSAT LABA

Pusat Laba - Ketika kinerja finansial suatu pusat tanggung jawab diukur dalam ruang lingkup laba (yaitu, selisih antara pendapatan dan beban), maka pusat ini disebut pusat laba (profit center). Dengan kata lain, pusat laba adalah suatu unit organisasi yang di dalamnya pendapatan dan beban diukur secara moneter. Laba merupakan ukuran kinerja yang berguna karena laba memungkinkan manajemen senior untuk dapat menggunakan satu indikator yang komprehensif, dibandingkan jika harus menggunakan beberapa indikator (beberapa di antaranya menunjuk ke arah yang berbeda).

Suatu organisasi fungsional adalah organisasi di mana fungsi produksi atau pemasaran utama dilakukan oleh unit organisasi yang terpisah. Ketika suatu organisasi diubah menjadi organisasi di mana setiap unit utama bertanggung jawab baik atas produksi maupun pemasaran, maka proses ini disebut dengan istilah divisionalisasi. Sebagai aturan, perusahaan membuat unit-unit bisnis karena mereka telah memutuskan untuk memberikan wewenang yang lebih luas kepada manajer-manajer operasi. Meskipun tingkat pelimpahan wewenang tersebut berbeda dari perusahaan yang satu ke perusahaan yang lain, tetapi wewenang yang lengkap untuk menghasilkan laba tidak pernah dilimpahkan ke dalam satu segmen tunggal dalam suatu bisnis.

B. KONDISI-KONDISI DALAM MENDELEGASIKAN TANGGUNG JAWAB LABA

Banyak keputusan manajemen yang melibatkan usulan untuk meningkatkan beban dengan harapan bahwa hal itu akan menghasilkan peningkatan yang lebih besar dalam pendapatan penjualan. Keputusan semacam ini disebut dengan pertimbangan biaya/pendapatan (expense/revenue trade-off). Untuk dapat mendelegasikan keputusan trade-off semacam ini ke tingkat manajer yang lebih rendah, maka ada dua kondisi yang harus dipenuhi.

  1. Manajer harus memiliki akses ke informasi relevan yang dibutuhkan dalam membuat keputusan serupa.
  2. Harus ada semacam cara untuk mengukur efektivitas suatu trade-off yang dibuat oleh manajer.
Langkah utama untuk membuat pusat laba adalah menentukan titik terendah dalam organisasi di mana kedua kondisi di atas terpenuhi.

Seluruh pusat tanggung jawab diibaratkan sebagai satu pusat kesatuan rangkaian yang mulai dari pusat tanggung jawab yang sangat jelas merupakan pusat laba sampai pusat tanggug jawab yag bukan merupakan pusat laba. Manajemen harus memutuskan apakah keuntungan dari delegasi laba akan dapat menutupi kerugiannya.

C. MANFAAT PUSAT LABA

Menjadikan unit organisasi sebagai pusat laba dapat memberikan manfaat sebagai berikut:

  • Kualitas keputusan dapat meningkat karena keputusan itu dibuat oleh para manajer yang paling dekat dengan titik keputusan.
  • Kecepatan dalam pengambilan keputusan operasional dapat meningkat karena tidak perlu mendapat persetujuan terlebih dahulu dari kantor pusat.
  • Manajemen kantor pusat bebas dari pengambilan keputusan harian sehingga dapat berkonsentrasi kepada hal-hal yang lebih luas.
  • Manajer karena hanya tunduk pada sedikit batasan dari korporat, lebih bebas untuk menggunakan imajinasi dan inisiatifnya.
  • Karena pusat-pusat laba serupa dengan perusahaan yang independen, maka pusat laba memberikan pelatihan yang sempurna bagi manajemen umum. Para manajer mendapatkan pengalaman dalam mengelola seluruh area fungsional, dan manajemen yang lebih tinggi mendapatkan kesempatan untuk mengevaluasi potensi pekerjaan yang tingkatnya lebih tinggi.
  • Kesadaran laba (profit consciousness) dapat ditingkatkan karena para manajer yang bertanggung jawab atas laba selalu mencari cara untuk meningkatkan labanya.
  • Pusat laba memberikan informasi yang siap pakai bagi manajemen puncak mengenai profitabilitas dari komponen-komponen indikator individual perusahaan.
  • Karena output yang dihasilkan telah siap pakai, maka pusat laba sangat responsif terhadap tekanan untuk meningkatkan kinerja kompetitifnya..

D. KESULITAN DENGAN PUSAT LABA


Selain manfaat yang diperoleh, pusat-pusat laba dapat memberikan beberapa kesulitan:

  1. Pengambilan keputusan yang terdesentralisasi akan memaksa manajemen puncak untuk mengandalkan laporan pengendalian manajemen dan bukan wawasan pribadinya atas suatu operasi, sehingga mengakibatkan hilangnya pengendalian.
  2. Jika manajemen kantor pusat lebih mampu dan memiliki informasi yang lebih baik daripada manajer pusat laba pada umumnya, maka kualitas keputusan yang diambil pada tingkat unit akan berkurang.
  3. Perselisihan dapat meningkat karena adanya argumen-argumen mengenai harga transfer yang sesuai, pengalokasian biaya umum yang tepat, dan kredit untuk pendapatan yang sebelumnya dihasilkan secara bersama-sama oleh dua atau lebih unit bisnis.
  4. Unit-unit organisasi yang pernah bekerja sama sebagai unit fungsional akan saling berkompetisi satu sama lain. Peningkatan laba untuk satu manajer dapat berarti pengurangan laba bagi manajer yang lain. Dalam situasi yang seperti ini, seorang manajer dapat saja gagal dalam memberikan potensi penjualan ke unit lain yang lebih tepat untuk merealisasikannya; menimbun pegawai atau peralatan yang akan lebih baik, dari sudut pandang seluruh perusahaan, jika digunakan ke unit lain; atau membuat keputusan produksi yang memiliki konsekuensi biaya yang tidak diinginkan bagi unit lain.
  5. Divisionalisasi dapat mengakibatkan biaya tambahan karena adanya tambahan manajemen, pegawai, dan pembukuan yang dibutuhkan, dan mungkin mengakibatkan duplikasi tugas di setiap pusat laba.
  6. Para manajer yang kompeten mungkin saja tidak ada dalam organisasi fungsional karena tidak adanya kesempatan yang cukup untuk mengembangkan kompetensi manajemen umum.
  7. Mungkin ada telalu banyak tekanan atas profitabilitas jangka pendek dengan mengorbankan profitabilitas jangka panjang.
  8. Tidak adanya sistem yang memuaskan untuk memastikan bahwa optimalisasi laba dari masing-masing pusat laba akan mengoptimalkan laba perusahaan secara keseluruhan.

E. BATASAN ATAS WEWENANG UNIT BISNIS

Hampir semua unit bisnis diciptakan sebagai pusat laba karena manajer yang bertannggug jawab atas unit tersebut memiliki kendali atas pengembangan produk, proses produksi, dan pemasaran. Para manajer tersebut berperan untuk mempengaruhi pendapatan dan beban sedemikian rupa sehingga dapat dianggap bertanggung jawab atas ”laba bersih”. Meskipun demikian, wewenang seorang manajer dapat dibatasi dengan berbagai cara, yang sebaiknya dicerminkan dalam desain dan operasi pusat laba.

Batasan dari unit bisnis lainnya. Salah satu masalah utama terjadi ketika suatu unit bisnis harus berurusan dengan unit bisnis lain. Sangatlah berguna untuk memikirkan pengelolaan suatu pusat laba dalam hal pengendalian atas tiga jenis keputusan: (1) keputusan produk (barang atau jasa apa saja yang harus dibuat dan dijual; (2) keputusan pemasaran (bagaimana, di mana, dan berapa jumlah barang atau jasa yang dijual); dan (3) keputusan perolehan (procurement) atau sourcing (bagaimana mendapatkan dan memproduksi barang atau jasa). Jika seorang manajer unit bisnis mengendalikan ketiga unit bisnis tersebut, biasanya tidak akan mendapatkan kesulitan dalam melaksanakan tanggung jawab laba dan mengukur kinerja.

Batasan dari manajemen korporat. Batasan-batasan yang dikenakan oleh manajemen korporat dikelompokkan menjadi tiga bagian: (1) batasan yang timbul dari pertimbangan-pertimbangan strategis; (2) batasan yang timbul karena adanya keharusan keseragaman yang diperlukan; dan (3) batasan yang timbul dari nilai ekonomis sentralisasi.

F. PUSAT LABA LAINNYA

Contoh-contoh pusat laba lainnya selain unit-unit bisnis, digambarkan di bawah ini.

  1. Unit-unit fungsional. Subunit yang ada dalam unit bisnis dapat saja terorganisasi secara fungsional. Terkadang lebih mudah untuk membuat satu atau lebih unit fungsional, misalnya aktivitas operasi pemasaran, manufaktur, dan jasa. Tidak ada prinsip-prisip tertentu yang menyatakan bahwa jenis unit tertentu yang merupakan pusat laba sementara yang lainnya bukan. Keputusan pihak manajemen untuk pusat labanya haruslah berdasarkan besar pengaruhya (bahkan jika bukan pengendalian total) yang dilaksanaka oleh manajer unit terhadap aktivitas yang mempengaruhi laba bersih.
  2. Pemasaran. Pemasaran dapat dijadikan sebagai pusat laba dengan membebankan biaya dari produk yang terjual. Harga transfer ini memberikan informasi yang relevan bagi manajer pemasaran dalam membuat trade-off pendapatan/pengeluaran yang optimal, dan praktik standar untuk mengukur manajer pusat laba berdasarkan probabilitasnya akan memberikan evaluasi terhadap trade-off yang dibuat.
  3. Manufaktur. Aktivitas manufaktur biasanya merupakan pusat beban, di mana manajemen dinilai berdasarkan kinerja versus biaya standar dan anggaran overhead. Tetapi, ukuran ini dapat menimbulkan masalah karena ukuran tersebut tidak mengindikasikan sejauh mana kinerja manajemen atas seluruh aspek pekerjaannya. Oleh karena itu, di mana kinerja proses manufaktur diukur terhadap biaya standar, dianjurkan untuk membuat evaluasi yang terpisah atas aktivitas-aktivitas seperti pengendalian mutu, penjadwalan produk, dan keputusan buat atau beli. Salah satu cara untuk mengukur aktivitas organisasi manufaktur secara keseluruhan adalah dengan menjadikannya pusat laba dan memberikan nilai berdasarkankan untuk harga jual produk dikurangi dengan estimasi biaya pemasaran.
  4. Unit pendukung dan pelayanan. Unit-unit pemeliharaan, teknologi informasi, tranportasi, teknik, konsultan, layananan konsumen, dan aktivitas pendukung sejenis dapat dioperasikan kantor pusat dan divisi pelayanan perusahaan, atau dapat dipenuhi oleh unit bisnis itu sendiri. Unit bisnis tersebut membebankan biaya pelayanan yang diberikan, dengan tujuan finansial untuk menghasilkan bisnis yang mencukupi sehingga pendapatan setara dengan pengeluaran. Perusahaan yang melakukan pembebanan “berdasarkan penggunaan” mungkin memperlakukan unit tersebut sebagai pusat laba.
  5. Organisasi lainnya. Suatu perusahaan dengan operasi cabang yang bertanggung jawab atas pemasaran produk perusahaan di wilayah geografis tertentu sering kali menjadi pusat laba secara alamiah. Meskipun para manajer cabang tidak memiliki tanggung jawab manufaktur atau pembelian, profitabilitasnya kadangkala merupakan satu ukuran unit kinerja yang paling baik. Lebih lanjut lagi, pengukuran laba merupakan satu alat motivasi yang sempurna.
G. MENGUKUR PROFITABILITAS

Terdapat dua jenis pengukuran profitabilitas yang digunakan dapat mengevaluasi sebuah pusat laba, sama halnya dalam mengevaluasi perusahaan secara keseluruhan. Pertama adalah pengukuran kinerja manajemen, yang memiliki fokus bagaimana hasil kinerja para manajer. Pengukuran ini digunakan untuk planning, coordinating, dan controlling kegiatan sehari-hari dari pusat laba dan sebagai alat untuk memberikan motivasi yang tepat untuk para manajer. Yang kedua adalah ukuran kinerja ekonomis, yang memiliki fokus bagaimana kinerja pusat laba sebagai entitas ekonomis. Maksud dari kedua ukuran di atas berbeda satu sama lain, sebagai contoh, laporan kinerja manajemen suatu toko cabang dapat memperlihatkan bahwa manajer toko tersebut memiliki kinerja yang baik; tetapi laporan kinerja ekonomisnya dapat memperlihatkan bahwa toko tersebut kehilangan posisinya di pasar dan harus di tutup.

Jenis-jenis ukuran kinerja. Kinerja manajer pusat laba dapat dievaluasi berdasarkan lima ukuran profitabilitas sebagai berikut:

  1. Margin kontribusi. Margin kontribusi menunjukkan rentang (spread) antara pendapatan dengan beban variabel. Alasan utama mengapa ini digunakan sebagai alat pengukur kinerja manajer pusat laba adalah karena beban tetap berada di luar kendali manajer tersebut, sehingga para manajer harus memusatkan perhatian untuk memaksimalkan margin kontribusi.
  2. Laba langsung. Laba langsung (direct profit) mencerminkan kontribusi pusat laba terhadap overhead umum dan laba perusahaan. Ukuran ini menggabungkan pengeluaran seluruh pusat laba, baik yang dikeluarkan oleh atau dapat ditelusuri langsung ke pusat laba tersebut tanpa mempedulikan apakah pos-pos ini ada dalam kendali manajer pusat laba atau tidak. Meskipun demikian, pengeluaran yang terjadi di kantor pusat tidak termasuk dalam penghitungan ini.
  3. Laba yang dapat dikendalikan. Pengeluaran-pengeluaran kantor pusat dapat dikelompokkan menjadi dua kategori, dapat dikendalikan dan tidak dapat dikendalikan. Yang termasuk dalam kategori pertama adalah pengeluaran-pengeluaran yang dapat dikendalikan, pada tingkat tertentu, oleh manajer unit bisnis, misalnya layanan teknologi informasi. Jika biaya-biaya ini termasuk dalam sistem pengukuran, maka laba yang dihasilkan setelah dikurangi dengan seluruh biaya yang dipengaruhi oleh manajer pusat laba tersebut.
  4. Laba sebelum pajak. Dalam ukuran ini, seluruh overhead korporat dialokasikan ke pusat laba berdasarkan jumlah relatif dari beban yang dikeluarkan oleh pusat laba. Jika pusat laba dibebankan dengan sebagian overhead korporat, maka hal ini harus dihitung berdasarkan biaya yang telah dianggarkan, dan bukan biaya aktual, di mana kolom ”anggaran” dan ”aktual” dalam laporan kinerja pusat laba menunjukkan jumlah yang sama untuk pos khusus ini. Hal ini akan memberikan kepastian bahwa para manajer pusat laba tidak akan mengeluh karena laporan kinerja mereka tidak akan menunjukkan varians dalam alokasi overhead.
  5. Laba bersih. Di sini, perusahaan mengukur kinerja pusat laba domestik berdasarkan laba bersih (net income), yaitu jumlah laba bersih setelah pajak.

Berikut adalah contoh laporan laba rugi suatu pusat laba:
H. PENUTUP

Memilih metode pengakuan pendapatan yang tepat sangatlah penting. Apakah pesanan dicatat pada saat pesanan dibuat, ketika pesanan dikirim, atau ketika uang kas diterima? Selain keputusan ini, ada hal-hal lain yang berkaitan dengan pendapatan umumnya yang memerlukan pertimbangan.dalam beberapa kasus dua atau lebih pusat laba dapat berpartisipasi dalam suatu usaha penjualan yang sukses. Idealnya setiap pusat laba harus diberikan nilai yang sesuai atas bagiannya dalam transaksi tersebut.

Hampir semua kebingungan yang timbul dalam mengukur kinerja pusat laba biasanya terjadi sebagai akibat dari kegagalan untuk memisahkan antara kinerja manajer dengan pengukuran ekonomis suatu pusat laba. Jika seseorang hanya mempertimbangkan pengukuran terhadap manajer jasa, maka solusinya sering kali tampak nyata: para manajer harus diukur berdasarkan pos-pos yang dapat mereka kendalikan, bahkan jika mereka tidak memiliki pengendalian penuh terhadap pos tersebut.

Penilaian-penilaian yang berkaitan dengan pengukuran pendapatan dan biaya harus dipertimbangkan tidak hanya berdasarkan teknik akuntansi, melainkan yang lebih penting lagi adalah berdasarkan pertimbangan perilaku. Kuncinya adalah memasukkan beban dan pendapatan dalam laporan manajer pusat laba yang dipengaruhi oleh tindakan manajer tersebut, bahkan jika tidak secara penuh.

sumber : http://blog.beswandjarum.com/denus/2009/11/21/pusat-laba-bukan-laba-laba/

Wednesday, May 19, 2010

Peran Ilmu Ekonomi Pertanian Dalam Pembangunan Peradaban

belajar bahasa inggris cepat tanpa grammar pertama kali di Indonesia
Berikut ini bagian pertama dari petikan lengkap orasi ilmiah Bustanul Arifin, yang diberi judul “Peran Ilmu Ekonomi Pertanian Dalam Pembangunan Peradaban: Sebuah Refleksi Untuk Reposisi”, disampaikan dalam rangka Orasi Ilmiah sebagai Guru Besar Ilmu Ekonomi Pertanian di Gedung Serbaguna Universitas Lampung, 20 Februari 2006.

Reposisikan Ilmu Ekonomi Pertanian Untuk Membangun Peradaban
IImu ekonomi pertanian merupakan salah satu cabang tertua dari ilmu ekonomi yang dikembangkan berdasarkan prinsip-prinsip kelangkaan dan pilihan. Kandungan sumberdaya pada suatu wilayah menjadi landasan pengembangan konsep keunggulan komparatif yang menjadi esensi utama perdagangan barang dan jasa. Strategi aplikasi atau turunan konsep di atas kemudian dikenal sebagai keunggulan kompetitif, yang berkembang sangat pesat dalam praksis dan peradaban umat manusia dalam proses industrialisasi dan globalisasi saat ini.

Dalam konteks tersebut, ilmu ekonomi menempatkan sektor pertanian atau basis sumberdaya alam sebagai landasan utama pembangunan ekonomi suatu bangsa. Proses transformasi sektor pertanian yang mampu menghasilkan produksi atau surplus pertanian di tingkat domestik dalam jumlah besar juga dianggap sebagai syarat pokok pertumbuhan ekonomi, pembangunan jati diri dan identitas suatu bangsa, dan bahkan mewarnai tahapan peradaban serta interaksi antarpelaku dalam pergaulan dunia yang semakin kompleks.

IImu ekonomi sendiri berkembang melalui perjalanan sejarah peradaban yang tidak terlalu gemilang, terutama proses kolonialisme, imperialisme, dan perbudakan yang sama sekali bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan secara universal. Semangat ekspansionis yang ditunjukkan oleh segelintir negara di Eropa dan negara besar lainnya bertemu dengan semangat penaklukan daerah jajahan, sekaligus penguasaan kekakayaan alam dan peradabannya. Asia Tenggara, Afrika dan Amerika Latin yang sangat kaya rempah-rempah dan sumberdaya alam menjadi ajang kolonialisme dan arena imperialisme yang sekaligus merupakan perwujudan ekspansi kekuasaan tentorial.

Sejarah Revolusi Industri di Inggris abad ke-19 memang diakui sebagai salah satu tonggak modernisasi ekonomi dan penerapan prinsip-prinsip efisiensi dalam perekonomian. Di dalam negeri, Revolusi Industri ikut memacu proses industrialisasi dan pertumbuhan ekonomi, yang kadang diwarnai oleh pemusatan aset dan modal pada sedikit pelaku ekonomi. Efisiensi transportasi sangat terbantu oleh penemuan kapal uap dan pembukaan Terusan Suez, yang akhirnya mampu mempersingkat waktu tempuh pelayaran dari Dunia Barat ke Timur, yang semakin menjadi insentif bagi kaum imperialis untuk lebih menguasai tanah jajahan baru.

Tu1isan ini adalalah sebuah refleksi penelusuran perjalanan ilmu ekonomi pertanian, meliputi kelahiran, modifikasi, integrasi dengan ekonomi pembangunan, masa keemasan dalam era perubahan teknologi, dan keterbatasannya dalam keberlanjutan pembangunan. Refleksi ini adalah pelajaran berharga untuk melakukan reposisi dan rekonstruksi ilmu ekonomi pertanian ke depan

Dari Usaha tani ke Pembangunan Ekonomi
Pada awal kelahirannya, ilmu ekonomi pertanian lebih banyak peduli pada manajemen usahatani, yang mengalami tantangan besar pada masa Perang Dunia I, yaitu tingginya permintaan bahan pangan serta kelangkaan tenaga kerja di sektor pertanian. Sebelum perang, peningkatan produksi pertanian dapat dengan mudah dicapai melalui perluasan lahan pertanian dan intensifikasi usahatani karena tenaga kerja nyaris bukan hambatan berarti, apalagi dapat dengan mudah diperoleh dengan harga yang murah dan bahkan tidak berharga sama sekali pada skema perbudakan, terutama di Amerika Serikat (AS) dan Eropa.

Persoalan efisiensi teknis dan efisiensi ekonomis menjadi tema sentral dalam ekonomi pertanian, tentu saja beserta keterkaitan dengan kebijakan penetapan harga produk pertanian, dalam hukum pennintaan dan penawaran yang telah berkembang pesat sebelumnya. Studi akademik lebih banyak diarahkan pada organisasi usaha tani dan praktik budidaya pertanian. termasuk peternakan dan perikanan, keterkaitannya dengan faktor-faktor yang menentukan produksi dan keuntungan usahatani tersebut. Hasil-hasil studi akhirnya digunakan untuk membantu petani atau usahatani yang tidak berproduksi secara menguntungkan agar mengikuti praktik usahatani yang baik dan benar, agar pendapatannya meningkat. Langkah sinergisme seperti itu mampu meningkatkan produksi pertanian dan dapat menanggulangi pertambahan penduduk yang mulai semakin cepat.

Ketika Perang Dunia I pecah, ilmu ekonomi pertanian mulai lebih peduli pada dimensi global dari persoalan suplai bahan pangan, kebutuhan tenaga kerja, standar biaya produksi pertanian dan peran strategis koperasi dalam memperbaiki manajemen usahatani yang lebih menguntungkan dan membawa kesejahteraan bagi umat manusia. Peran yang dimainkan ilmu ekonomi pertanian pada saat itu tentu lebih banyak defensif, dalam arti hanya mampu bertahan membenahi persoalan-persoalan yang ditimbulkan oleh perang atau hegemoni para politisi yang haus kekuasaan, tanpa menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan peradaban yang mengisinya. Akibatnya, kontribusi ilmu ekonomi pertanian lebih banyak berorientasi ke dalam, misalnya terlalu memperhatikan persoalan dalam negeri sendiri, dan maksimal para sekutunya dalam perang, sesuatu yang seringdiklaim sebagai persoalan global.

Depresi besar dan resesi hebat yang melanda AS pada 1930-an sebenamya turut mewarnai perkembangan ilmu ekonomi pertanian, karena sektor pertanian dilanda persoalan yang tidak kalah beratnya dengan persoalan yang diderita sektor industri. Adalah George F. Warren, seorang petani dan profesor di Universitas Cornell (New York) dan beberapa pengikutnya yang berperan cukup besar dalam perkembangan ilmu ekonomi pertanian, bahkan ekonomi moneter dan ekonomi pembangunan pada umumnya. Dengan konsistensi yang sangat tinggi antara tulisan, ucapan dan tindakan, para ekonom pertanian ini merekomendasikan dan melaksanakan legislasi pertanian AS atau yang lebih dikenal dengan “The New Deal” itu. Tidak secara berlebihan jika ada yang menyimpulkan bahwa tidak ada kelompok ekonomi mana pun selain kelompok ekonomi pemnian yang sangat berpengaruh dalam perumusan dan administtasi kebijakan publik. Hal tersebut karena ciri khas ilmu ekonomi pertanian adalah memang dilandaskan pada penelitian mendalam, pendidikan dan pengajaran spartan, dan aplikasi lapangan secara nyata, yakni dengan perumusan masalah dan orientasi penyelesaiannya secara berkesinambungan.

Di satu sisi, terobosan pemikiran ke luar tersebut cukup menggembirakan, namun di sisi lain perkembangan ilmu ekonomi pertanian tidak terlalu pesat sampai dengan berakhirnya Perang Dunia II. Banyak negara baru yang lepas dari penjajahan tidak begitu saja mampu melepaskan ketergantungannya pada pola pikir kolonial, jika tidak dapat dikatakan mewarisi paradigma pembangunan ekonomi yang masih fokus pada pertumbuhan industri dan perkotaan. Sektor pertanian lebih banyak dilihat dan diperlakukan sebagai sektor residu yang hanya berfungsi sebagai pemasok tenaga kerja murah bagi sektor industri dan manufaktur. Akibatnya, sektor industri manufaktur dan jasa berkembang cukup pesat, yang sekaligus menandai modernisasi dalam strategi pembangunan ekonomi, walaupun “agak terlepas” dari sektor pertanian karena struktur dualistik yang menyelimuti keduanya.

Pemikiran ekonomi dualistik tersebut juga sangat dipengaruhi oleh fakta dualisme sosiologis yang dikembangkan oleh J.H. Boeke, seorang ilmuwan asal Belanda, setelah melakukan penelitian cukup lama tentang perkebunan dan pertanian di daerah jajahan, terutama di Jawa dan Sumatera. Dalam kerangka dualistik itu, terdapat hipotesis bahwa aktivitas ekonomi di sektor modem (Barat dan enclave Barat) dipicu kebutuhan ekonomis, sedangkan aktivitas ekonomi di sektor tradisional (Timur) hanya dipicu oleh kebutuhan sosial yang hanya untuk memenuhi kebutuhan subsisten. Di sana implisit bahwa tidak akan ada gunanya membawa ide-ide baru, kelembagaan dan teknologi baru ke tengah-tengah masyarakat tradisional. Hipotesis inilah yang menjadi justifikasi rasional dalam pengembangan industrialisasi dan mengabaikan pembangunan pertanian.

Varian dari hipotesis dualistik itu terdiri dari beberapa pemikiran, misalnya yang cukup populer adalah dualisme enclave yang menggambarkan suatu organisasi produksi pertanian, yang teridiri dari enclave kecil masyarakat modem (inti) dikelilingi oleh lautan masyarakat tradisional (plasma). Enclave melakukan ekstraksi komoditas primer (perkebunan dan tambang) dan aktivitas ekspor, juga mengimpor tekonologi hemat tenaga kerja. Dalam hal ini, tentu tidak terlalu banyak aktivitas yang dilakukan oleh sektor tradisional, kecuali eksploitasi sumberdaya alam semata.

Perkembangan pemikiran ekonomi dualistik ini sebenarnya sangat sejalan dengan hipotesis surplus tenaga kerja yang terjadi di sektor pertanian dan perkembangan teknologi yang terjadi di sektor industri dengan menjadi andalan argumen dalam karya-karya Arthur Lewis. Asumsi yang digunakan adalah eksistensi penduduk dengan produktivitas tenaga kerja sangat rendah, bahkan berada di bawah tingkat upah. Di sini terdapat pengangguran tersembunyi, karena produktivitas tenaga kerja nyaris sama dengan nol, sehingga apabila dilakukan pemutusan hubungan kerja pun, maka produksi dipastikan tidak akan berkurang. Proses pembangunan ekonomi adalah transfer tenaga kerja dari sektor tradisional (yang tidak banyak menambah produktivitas) ke sektor modern (yang hasilnya dapat digunakan untuk reinvestasi di peralatan, mesin, banngunan) dan masih dapat ditingkatkan.

Fondasi kapitalistik inilah yang menjadi karakter dari Arthur Lewis, yang akhirnya berkembang kepada hubungan antara negara maju dan negara berkembang, sesuatu yang fundamental dalam teori ekonomi pembangunan. Arthur Lewis kemudian diberi Hadiah Nobel Bidang Ekonomi pada tahun 1979, bersama-sama dengan Theodore w. Schultz.

Proses industrialisasi dilaksanakan dengan perbedaan yang amat prinsip, yaitu bahwa sektor industri manufaktur (modern) dijalankan dengan prinsip maksimisasi keuntungan biasa; sedangkan sektor pertanian (tradisional) dijalankan dengan norma-norma konvensional, bukan prinsip-prinsip produksi marjinal. Jadi, apabila konsep kelebihan tenaga kerja memang diartikan sebagai tingkat produktivitas marjinal yang mendekati nol, maka tingkat alokasi produksi dalam sektor perrtanian hampir tidak mungkin untuk mengikuti prinsip-prinsip persaingan pasar sempurna.

Artinya, tingkat upah buruh di sektor pertanian terlalu kecil untuk sekadar bertahan hidup, sehingga suatu norma tertentu terkadang dijadikan basis pengambilan keputusan alokasi produksi. Proses industria1isasi yang dicirikan oleh karakter dualistik tersebut umumnya menghadapi kondisi asimetri produksi dan asimetri organisasi. Asimetri produksi maksudnya adalah bahwa penggunaan faktor produksi modal tidak digunakan sepenuhnya dalam sektor pertanian dan lahan tidak digunakan sepenuhnya dalam sektor industri. Sedang asimetri organisasi maksudnya tingkat penerimaan upah di kedua sektor tersebut tidak akan mencapai keseimbangan karena perbedaan produktivitas marjinal tenaga kerja seperti telah disampaikan di atas.

Sebagaimana disebut sebelumnya, pasca Perang Dunia II itulah i1mu ekonomi pertanian mulai menunjukkan perkembangan yang cukup pesat, terutama setelah ada integrasi analisis dengan ekonomi pembanguna, sangat kontras dengan kondisi pada periode perang. Beberapa pemikiran dan karya para ekonom pertanian seakan tidak mampu menggugah para praktisi dan perumus kebijakan di setiap negara. Periode kelabu dan suasana perang pasti bukan waktu yang kondusif untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, walaupun sebenarnya manusia tidak pemah berhenti berfikir. Setelah beberapa tahun kemudian, barulah khalayak memberikan apresiasi kepada para ekonom pertanian sekaliber Theodore W. Schultz yang meletakkan dasar-dasar pemikiran tentang pentingnya pembangunan pertanian dalam pertumbuhan ekonomi, di mana pun di dunia. Schultz adalah seorang ilmuwan, peneliti, manajer, wiraswasta, katalis intelektual, dan ekonom pertanian tangguh alumnus Universitas Wisconsin-Madison yang mengembangkan karier akademiknya di Universitas Chicago.

Ketekunannya mendalami persoalan pembangunan ekonomi, dan proses pencariannya untuk menemukan rumusan dan pencerahan kebijakan yang mengarah pada kesejahteraan umat manusia. Sebagaimana diketahui, T.W. Schultz akhirnya dianugerahi Hadiah Nobel Bidang Ekonomi pada tahun 1979, bersama Arthur Lewis dari Universitas Princeton, sebagaimana diuraikan sebelumnya. Schultz secara konsisten menantang pemikiran hipotesis “produk marjinal sama dengan nol” yang dikembangkan oleh teman sekaligus lawan berdebatnya Arthur Lewis, dan berargumen bahwa pendidikan petani dapat menjadi salah satu investasi dengan biaya rendah dan mampu menghasilkan tambahan pendapatan tinggi yang permanen. Inilah salah satu kontribusinya yang sangat berharha bagi ilmu ekonomi.

Dekade 1960-an merupakan salah satu titik kulminasi dalam perkembangan khazanah ilmu ekonomi pertanian ketika paradigma bergeser menjadi “keseimbangan pertumbuhan ekonomi”. Sektor pertanian perlu mencapai tingkat pertumbuhan tertentu agar mampu lebih sejajar dan kompatibel dengan pembangunan sektor-sektor lain dalam ekonomi. Kontribusi pemikiran dari Simon Kuznets dan John Mellor sangat besar dalam meletakkan fondasi dasar bagi analisis tentang peran sektor pertanian dalam proses pembangunan. Hampir semua pemahaman umum tentang peran sektor pertanian dalam pembangunan ekonomi yang dipercaya sampai sekarang adalah hasil karya ekonom pertanian pada dekade 1960an tersebut. Misalnya, pemahaman tentang sektor pertanian sebagai penyedia pangan, penghasil devisa dari ekspor, pemasok tenaga kerja bagi industri, dan stimulus pasar bagi pengembangan sektor industri adalah sedikit saja kontribusi besar yang sulit terlupakan.

Prinsip yang diperjuangkan para ekonom pertanian ini cukup sederhana, namun menyentuh sendi-sendi kehidupan perekonomian, misalnya bahwa laju penyediaan bahan pangan minimal harus sama atau lebih besar dari laju permintaan pangan, yang sangat ditentukan oleh tingkat pertumbuhan penduduk, pendapatan serta elastisitas atau persentase pendapatan untuk konsumsi pangan. John Mellor terus konsisten memperjuangkan fungsi strategis sektor pertanian sebagai pengganda pendapatan dan pengganda lapangan kerja, yang sekaligus sangat menentukan proses perubahan teknologi dan industrialisasi baik di negara berkembang, maupun di negara maju. Simon Kuznets lebih banyak peduli pada persoalan pembangunan ekonomi dalam keterkaitannya dengan pemerataan pendapatan, yang digambarkannya laksana kurva U-terbalik. Seperti diketahui, Simon Kuznets akhirnya memperoleh Hadiah Nobel Bidang Ekonomi pada tahun 1971 karena kontribusinya pada i1mu ekonomi.

Ekonomi Pertanian dalam Era Perubahan Teknologi
Era perubahan teknologi yang sangat pesat sebenarnya telah dimulai pada peridoe 1960 dan 1970-an dan berlanjut sampai dekade 1980-an. Ilmu ekonomi pertanian memperoleh pelajaran sangat berharga dari proses perubahan peradaban, yang nyaris mengubah berbagai sendi-sendi kehidupan manusia. Perubahan teknologi pertanian tidak terlalu pesat pada dekade 1990-an dan awal abad 21 ini, kecuali rekayasa genetika dan bioteknologi yang menyisakan tantangan tersendiri bagi ekonomi pertanian.

Pada awal 1970-an fokus kajian ekonomi pertanian lebih banyak pada aspek ekonomi mikro dari sektor pertanian, atau tepatnya pada teori harga dan kebekerjaan pasar. Secara mikro pula, pendalaman tentang keputusan atau tingkah laku individu dalam hal produksi, konsumsi dan perdagangan memang sangat dominan. Jadi, keterbatasan sumberdaya pertanian --lahan, tenaga kerja, modal, waktu dan lain-lain-- menjadi salah satu kajian yang dominan dalam pengembangan alat analisis dan pendalaman teori ekonomi pertanian, karena para aktor ekonomi memang harus memilih dan melakukan alokasi sumberdaya yang paling efisien menurut ukuran yang baku.

Di sanalah, misalnya, dalam bidang produksi peran perubahan teknologi menjadi sangat dominan, karena dalam prinsip-prinsip ekonomi, teknologi baru tidak hanya mampu meringankan konstrain, tetapi juga mampu menambah pilihan yang tersedia. Dalam hal konsumsi, tambahan pendapatan tentu saja mampu memperlebar konstrain atau menambah pilihan barang yang dapat dikonsumsi. Aktivitas bidang pengolahan dan perdagangan sangat diuntungkan dengan perubahan teknologi karena menekan biaya pengolahan, mengurangi biaya transportasi, menghemat waktu dan tempat dan sebagainya. Ilmu ekonomi pertanian senantiasa ditantang untuk menemukan strategi kombinasi produksi dan alokasi sumberdaya dalam pengolahan dan perdagangan serta manajemen kepuasan dan kemanfaatan dalam hal konsumsi, yang semuanya bermuara pada tingkat efisiensi baik secara teknis, maupun secara ekonomis.

Ketika ekonomi pertanian semakin memperoleh tempat di tengah masyarakat, maka perubahan teknologi berikut ini menandai kehidupan dunia pertanian dan peradaban manusia umumnya. Di antaranya adalah penemuan varietas unggul baru dalam komoditas pangan biji-bijian, penambahan zat hara tanah dalam bentuk pupuk buatan, penanggulangan hama dan penyakit tumbuhan dengan bahan kimia, pengaturan populasi tanaman, serta manajemen pengaturan air irigasi dan drainase, dan sebagainya. Era perubahan teknologi yang sangat pesat itulah yang kemudian dikenal dengan sebutan Revolusi Hijau, karena memang ditujukan untuk meningkatkan produksi pertanian terutama bahan pangan, sebagai jawaban para ilmuwan lain terhadap ancaman kekurangan pangan dan kelaparan yang begitu mudah dijumpai di banyak tempat.

Revolusi Hijau telah mampu menyelamatkan manusia dan jenis peradabannya dari kepunahan atau kematian karena kelaparan, yang sekaligus memupus keraguan aliran pemikiran pesimisme ala Thomas Malthus dan pengikutnya. Lonjakan produksi pangan dan biji-bijian yang dihasilkan oleh teknologi baru dalam hal benih dan varietas unggul baru serta bahan kimia yang menjadi pupuk dan pestisida tercatat sampai pangan 4-5 kali lipat dari sebelumnya, sesuatu yang tidak pemah terbayangkan sebelumnya.

Para ekonom pertanian sering menyebutnya dengan teknologi biologis-kimiawi, yang sangat diandalkan pada lahan sempit dengan penduduk yang padat, sekaligus untuk membedakannya dengan teknologi mekanis yang mengandalkan mesin dan alat pertanian yang sangat memadai untuk areal luas dengan tenaga kerja yang terbatas.

Yujiro Hayami asal Jepang, adalah salah satu dari sedikit ekonom pertanian Asia yang sangat berperan dalam memajukan peradaban bangsa karena ketekunannya melakukan analisis tingkah lahu petani dalam keterkaitannya dengan perubahan teknologi ini. Cerita sukses Jepang, Taiwan, dan bahkan Indonesia dalam melesatkan produksi padi dan tanaman biji-bijian lain sangat berkaitan erat dengan pengembangan varietas unggul yang sangat responsif terhadap pupuk anorganik. Dukungan infrastruktur irigasi, jalan desa, ketersediaan faktor-faktor produksi teknis seperti pupuk, pestisida, dan benih itu sendiri juga sangat berperan. Kendala produksi karena keterbatasan lahan dapat diatasi dengan pengembangan teknologi biologis-kimiawi, yang lebih dikenal dengan Revolusi Hijau tersebut.

Dalam hal teknologi mekanis, ekonomi pertanian melihatnya sebagai suatu respons rasional karena kecilnya rasio lahan terhadap tenaga kerja, sebagaimana yang diadopsi di negara-negara dengan areal lahan sangat luas, seperti di Amerika Serikat, Eropa Barat, Rusia dan lain-lain. Aplikasi teknologi mekanis sering juga dianggap sebagai varian dari Revolusi Industri, yang telah berlangsung sejak abad 19, walaupun para ekonom pertanian belum terlalu sepakat tentang keterkaitannya dengan Revolusi Hijau atau revolusi di dunia pertanian tersebut.

Maksudnya, revolusi pertanian bukan sekadar penerapan atau adopsi metode-medote industrialisasi kepada proses produksi pertanian. Jika di industri proses mekanisasi merangsang terspesialisasinya tenaga kerja, di pertanian proses mekanisasi mengandung dimensi ruang dan waktu yang amat rumit. Keterpautan waktu antara pengolahan lahan, tanam, penanggulangan gulma, hama dan penyakit, panen dan sebagainya itu memang memerlukan mesin pertanian spesialis khusus. Pada sistem pertanian yang sangat mekanis, mobilitas dan spesialisasi seringkali mengakibatkan biaya investasi per tenaga kerja yang lebih tinggi dari pada di sektor industri. Hal itu berarti bahwa teradopsinya mekanisasi dalam bidang pertanian adalah untuk meningkatkan produktivitas tenaga kerja sektor pertanian itu sendiri. Singkatnya, perkembangan proses mekanisasi pertanian memiliki tujuan untuk meningkatkan produksi per tenaga kerja atau dalam hal ini untuk memperluas lahan produktif melalui proses ekstensifikasi pertanian.

Persoalan menjadi sedikit lebih rumit ketika dihadapkan pada pertanyaan apakah proses perubahan teknologi itu merupakan faktor eksogen dalam suatu sistem ekonomi --di sini berarti pengembangan kedua jenis teknologi merupakan produk atau hasil kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi-- ataukah proses perubahan teknologi itu merupakan faktor endogen suatu sistem ekonomi. Dalam suatu sistem perekonomian yang dinamis, perubahan harga permintaan produk dan harga penawaran faktor produksi tidaklah dapat dipisahkan. Misalnya, ketika permintaan terhadap bahan makanan naik karena naiknya jumlah penduduk atau meningkatnya pendapatan per kapita, permintaan terhadap faktor produksi tersebut ikut naik secara proporsional.

Artinya, kenaikan permintaan tersebut mengakibatkan berubahnya harga relatif faktor-faktor produksi. Akibat berikutnya adalah bahwa tingkat pendapatan --termasuk distribusinya di kalangan para pemilik faktor produksi-- berubah sehingga hal tersebut kembali mempengaruhi permintaan secara keseluruhan.

Prinsip-prinsip inilah yang menjadi cikal-bakal konsep keseimbangan umum dalam ekonomi, yang kelak berkembang sangat pesat sebagai salah satu analisis lebih komprehensif terhadap berbagai fenomena kehidupan manusia.

sumber : http://www.tokohindonesia.com/ensiklopedi/b/bustanul-arifin/biografi/04.shtml

Monday, May 10, 2010

Calon Kuat Pengganti Sri Mulyani

belajar bahasa inggris cepat tanpa grammar pertama kali di Indonesia
Mentri keuangan adalah salah satu posisi yang sentral dan sangat penting, sejak pemunduran diri Sri Mulyani dari mentri keuangan, Pak SBY harus memutar otak untuk mencari pengganti Sri Mulyani, nah, dibawah ini ada beberapa calon kuat pengganti Sri Mulyani di Mentri keuangan.
Calon Pengganti Sri Mulyani adalah :

1. DARMIN NASUTION
Lahir: Tapanuli, Sumatera Utara, 21 Desember 1948
Pendidikan:
1. Sarjana Ekonomi Universitas Indonesia (1976)
2. Doktor dari Universitas Paris, Sorbonne, Prancis (1985)

Karier:
2000 - Direktur Jenderal Lembaga Keuangan Departemen Keuangan
2005 - Kepala Badan Pengawas Pasar Modal
2006 - Direktur Jenderal Pajak
2009 - Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia
2010 - Pjs Gubernur Bank Indonesia

2. ANGGITO ABIMANYU
Lahir: Bogor, 19 Februari 1963
Pendidikan :
- Jurusan Ekonomi Pertanian UGM (S1)
- Pembangunan Internasional, Universitas Pennsylvania, AS (S-2)
- Ekonomi Lingkungan, Universitas di Pennsylvania, AS (S-3)

Karier:
1999 - Staf Ahli Menteri Keuangan
1999-2000 - Komisaris Independen Bank Internasional Indonesia
2003 - Komisaris Independen Lippobank
2004-2008 - Komisaris Telkom
2006-sekarang - Kepala Badan Kebijakan Fiskal

3. AGUS MARTOWARDOJO
Lahir: Amsterdam, 24 Januari 1956
Pendidikan:
- Sarjana Ekonomi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (1984)
- Banking and Management Courses di State University of New York, Buffalo, dan Stanford University, Palo Alto, AS
- Institute of Banking and Finance, Singapura

Karier:
1984 - Bank of America NT & SA sebagai Officer Development Program dan International Loan Officer
1986-1994 - PT Bank Niaga Tbk sebagai Vice President, Corporate Banking Group di Jakarta dan Surabaya
1995-1998 - Direktur Utama di Bank Bumiputera
2002-2005 - Direktur Utama Bank Permata
2005-sekarang Direktur Utama Bank Mandiri

4. AHMAD FUAD RAHMANY
Pendidikan:
- Sarjana Ekonomi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (1981)
- Master of Art dari Duke University, Durham, North Carolina, AS (1987)
- Doktor di bidang ilmu ekonomi dari Department of Economics, Vanderbilt University, Tennessee, AS (1997)

Karier:
- Deputy for Budgeting and Accountancy pada Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi NAD-Nias
- Direktur Pengelolaan Surat Utang Negara dan Kepala Pusat Manajemen Obligasi Negara
- Kepala Badan Pengawas Pasar Modal (saat ini)

menurut kamu siapakah calon kuat pengganti Sri Mulyani?

Profil Sri Mulyani

belajar bahasa inggris cepat tanpa grammar pertama kali di Indonesia
Profil Sri Mulyani - Sri Mulyani Indrawati adalah seorang wanita yang prestasinya sedang banyak dibicarakan orang.
Okey sekarang mari kita lihat Profil Sri Mulyani, sang wanita hebat.

Profile Sri Mulyani
Sri Mulyani Indrawati (lahir di Bandar Lampung, Lampung, 26 Agustus 1962) adalah wanita sekaligus orang Indonesia pertama yang menjabat sebagai Direktur Pelaksana Bank Dunia. Jabatan ini akan diembannya mulai 1 Juni 2010. Sebelumnya, dia menjabat Menteri Keuangan Kabinet Indonesia Bersatu. Begitu, dia berkantor di Kantor Bank Dunia, dia praktis meninggalkan jabatannya sebagai menteri keuangan. Sebelum menjabat menteri keuangan, dia menjabat Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas dari Kabinet Indonesia Bersatu. Sri Mulyani sebelumnya dikenal sebagai seorang pengamat ekonomi di Indonesia. Ia menjabat Kepala Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (LPEM FEUI) sejak Juni 1998. Pada 5 Desember 2005, ketika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengumumkan perombakan kabinet, Sri Mulyani dipindahkan menjadi Menteri Keuangan menggantikan Jusuf Anwar. Sejak tahun 2008, ia menjabat Pelaksana Tugas Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, setelah Menko Perekonomian Dr. Boediono dilantik sebagai Gubernur Bank Indonesia.

Ia dinobatkan sebagai Menteri Keuangan terbaik Asia untuk tahun 2006 oleh Emerging Markets pada 18 September 2006 di sela Sidang Tahunan Bank Dunia dan IMF di Singapura.
Ia juga terpilih sebagai wanita paling berpengaruh ke-23 di dunia versi majalah Forbes tahun 2008 dan wanita paling berpengaruh ke-2 di Indonesia versi majalah Globe Asia bulan Oktober 2007.

Pendidikan
  1. Sarjana Ekonomi di Universitas Indonesia Jakarta, Indonesia. (1981 – 1986)
  2. Master of Science of Policy Economics di University of lllinois Urbana Champaign, U.S.A. (1988 – 1990)
  3. Ph.D. of Economics di University of lllinois Urbana-Champaign, U.S.A. (1990 – 1992)
Ini dia video tentang Sri Mulyani

Wednesday, May 5, 2010

Skala Nominal, Ordinal, Interval dan Ratio

belajar bahasa inggris cepat tanpa grammar pertama kali di Indonesia
Skala pengukuran ada 4 yaitu nominal, ordinal, interval dan ratio. Skala pengukuran dalam penelitian merupakan seperangkat aturan yang diperlukan untuk mengkuantitatifkan data dari pengukuran suatu variable. Dalam melakukan analisis statistik, perbedaan jenis data sangat berpengaruh terhadap pemilihan model atau alat uji statistik. Tidak sembarangan jenis data dapat digunakan oleh alat uji tertentu.
Okey, yuk kita bahas satu-satu tentang Skala nominal, ordinal, interval dan ratio

Skala Nominal
Pengukuran dengan skala nominal merupakan tingkat mengkategorikan, memberi nama dan menghitung fakta-fakta dari obyek yang diteliti. Dimana angka yang diberikan pada obyek hanya mempunyai arti sebagai label saja dan tidak menunjukkan tingkatan yang berarti.
Contoh : mengkategorikan pegawai pria dan wanita.
Skala nominal akan menghasilkan data yang disebut data nominal atau data diskrit, yaitu data yang diperoleh dari mengkategorikan, memberi nama dan menghitung fakta-fakta dari objek yang diobservasi.

Skala Ordinal
Skala (ukuran) ordinal adalah skala yang merupakan tingkat ukuran kedua, yang berjenjang sesuatu yang menjadi ‘lebih’ atau ‘kurang’ dari yang lainnya. Ukuran ini digunakan untuk mengurutkan objek dari yang terendah hingga tertinggi dan sebaliknya yang berarti peneliti sudah melakukan pengukuran terhadap variable yang diteliti.
Contoh : mengukur kejuaraan olah raga, prestasi kerja, senioritas pegawai.

Skala Interval
Merupakan tingkat pengukuran ke tiga, dimana pemberian angka pada set objek yang memilih sifat ordinal, ditambah dengan satu sifat yang lain, yakni memberikan nilai absolute pada data/ objek yang akan diukur. Ukuran rasio ini mempunyai nilai nol (0) absolute (tidak ada nilainya).
Contoh : Angka 0 (nol) untuk thermometer memiliki makna yang sangat berpengaruh dan bukan berarti dapat diabaikan.

Skala Rasio
Merupakan tingkat pengukuran tertinggi, dimana ukuran ini mencakup semua persyaratan pada ketiga jenis ukuran sebelumnya, ditambah dengan satu sifat yang lain, yakni ukuran ini memberikan nilai absolute pada data/objek yang akan diukur. Ukuran rasio ini mempunyai nilai nol (0).
Contoh : penghasilan pegawai 0 (berarti pegawai itu tidak menerima uang sedikitpun).


Related Posts with Thumbnails