Demo Site

belajar bahasa inggris cepat tanpa grammar pertama kali di Indonesia

Thursday, November 18, 2010

Akuntansi Keuangan dan Akuntansi Manajemen

belajar bahasa inggris cepat tanpa grammar pertama kali di Indonesia
Akuntansi Keuangan dan Akuntansi Manajemen, hmmmmm apa bedanya yah???
tuk lihat perbedaan antara Akuntansi Keuangan dan Akuntansi Manajemen, yuk lihat dibawah ini.... semoga membantu....

A. Pendahuluan
Sistem informasi akuntansi pada suatu organisasi memiliki dua subsistem utama: sistem akuntansi manajemen dan sistem sistem keuangan. Sistem informasimakuntansi keuangan berhubungan dengan penyediaan keluaran bagi pengguna
eksternnal. Sistem tersebut menggunakan data ekonomi sebagai masukan dan memprosesnya sampai memenuhi aturan dan konvensi tertentu. Sedangkan system manajemen menghasilkan informasi untuk pengguna internal seperti manajer, eksekutif, dan pekerja. Jadi akuntansi manajemen dikatakan sebagai akuntansi internal dan akuntansi keuangan dapat dikatakan sebagai akuntansi eksternal.
Akuntansi Manajemen adalah proses identifikasi, pengukuran, pengumpulan,
analisis, penyiapan, dan komunikasi informasi finansial yang digunakan oleh


B. Tujuan Akuntansi Manajemen.

1. Tujuan Primer: adalah membantu manajemen dalam pembuatan keputusan manajemen.
2. Tujuan Sekunder:
a. Membantu manajemen dalam melaksanakan fungsi perencanaan yang meliputi:
1. pengidentifikasian tujuan dan sasaran yang akan dicapai, dan
2. Perencanaan pengalokasian sumber-sumber organisasi secara optimal.
b. Membantu manajemen dalam menjawab masalah organisasi yang meliputi:
1. menghubungkan struktur organisasi atau perusahaan dengan tujuan yang akan dicapai,
2. membangun dan memelihara sistem komuniikasi dan pelaporan yang efektip, dan
3. mengukur penggunaan sumber-sumber, menemukan prestasi dan penyimpangan dan mengidentifikasi penyebabnya.

Pertumbuhan dan deregulasi dalam industry jasa dalam era deregulasi banyak isu yang di hadapi industry manufaktor mulai muncul pada sector jasa produktifitas efesiensi biasa kepuasan pelanggan, dan persaingan berdasarkan waktu. Isu-isu persaingan ini membuat manajer perusahaan lebih sadar terhadap kebutuhan pemanfaatan informasi akuntansi manajemen dalam perencanaan, pengendalian dan pengambilan keputusan. Dengan kebutuhan akan informasi dan produktifitas yang lebih baik, sektor jasa akan meningkatkan permintaannya terhadap informasi akuntansi manajamen.

c. Membantu manajemen dalam melaksanakan fungsi pengendalian manajemen .
d. Membantu manajemen dalam melaksanakan sistem kegiatan manajemen, yang meliputi:
1. pengukuran masukan (biaya) dan keluaran (pendapatan) yang relevan untuk tiap pusat pertanggunjawaban,
2. Pengkomunnikasian data yang tepat dan karakteristik ekonomi yang penting untuk para pejabat kunci dalam waktu yang tepat.


C. Perbedaan Akuntansi Kanajemen dengan Akuntansi Keuangan
Akuntansi manajemen dan akuntansi keuangan memiliki beberapa perbedaan. Beberapa perbedaan tersebut dapat dilihat dari beberapa sudut di antaranya.

PERBEDAAN AKUNTANSI KEUANGAN DENGAN AKUNTANSI MANAJEMEN

Akuntansi manajemen memiliki dua arti yaitu akuntansi manajemen sebagai suatu tipe akuntansi dan akuntansi manajemen sebagai suatu tipe informasi.

1. Akuntansi Manajamen Sebagai Suatu Tipe Akuntansi

Tipe akuntansi terbgai dua yaitu akuntansi keuangan dan akuntansi manajemen. Kedua tipe akuntansi ini mempunyai karakteristik yang berbeda. Akuntansi keuangan merupakan tipe akuntansi yang mengolah informasi keuangan yang terutama untuk memenuhi kebutuhan manajemen puncak dan pihak luar organisasi. Sedangkan akuntansi manajemen merupakan tipe akuntansi yang mengolah informasi yang terutama memenuhi kebutuhan manajemen dalam
melaksanakan fungsi perencanaan dan pengendalian organisasi.

Pemakai informasi yang dihasilkan oleh kedua tipe akuntansi tersebut mempunyai kebiasaan pengambilan keputusan yang berbeda. Pihak luar perusahaan memerlukan informasi tentang perusahaan bertujuan untuk menentukan hubungan antara pihak luar dengan perusahaan. Informasi keuangan yang dibutuhkan oleh pihak luar tersebut diolah dan disajikan oleh tipe akuntansi keuangan.

Manajemen dari berbagai jenjang organisasi suatu perusahaan memerlukan informasi keuangan untuk mengambil keputusan mengenai perusahaan itu sendiri atau bagiannya. Informasi yang dibutuhkan oleh manajemen tersebut diolah dan disajikan oleh tipe akuntansi manajemen

Akuntansi Keuangan adalah salah satu bidang akuntansi yang tujuan utamanya untuk menyajikan laporan keuangan suatu satuan usaha atau organisasi tertentu untuk kepentingan pihak eksternal. Akuntansi manajemen adalah salah satu bidang akuntansi yang tujuan utamanya menyajikan laporan laporan suatu satuan usaha atau organisasi tertentu untuk kepentingan pihak internal dalam rangka melaksanakan proses manajemen yang meliputi perencanaan, pembuatan keputusan, pengorganisasian dan pengarahan serta pengendalian. Perbedaan akuntansi keuangan dengan akuntansi manajemen dapat dilihat pada bagan dibawah ini.
2. Akuntansi Manajemen Sebagai Suatu Tipe Informasi.
Informasi merupakan suatu fakta, data, pengamatan, persepsi atau sesuatu yang lain yang menambah pengetahuan. Informasi diperlukan oleh manusia untuk mengurangi ketidakpastian dalam pengambilan keputusan.

Akuntansi sebagai bahasa bisnis dikelompokkan menjadi:
a. Informasi Operasi. Untuk melaksanakan kegiatan, manajemen memerlukan informasi operasi seperti persediaan produk digudang, jumlah produk yang diproduksi dan dijual, jumlah jam kerja karyawan. Informasi ini merupakan bahan baku untuk mengolah tipe akuntansi yang lain.
b. Informasi Akuntansi Keuangan. Informasi ini diperlukan oleh pihak dalam maupun pihak luar perusahan. Informasi ini dihasilkan oleh sistem pengolahan informasi keuangan. Informasi ini berbentuk Neraca, laporan laba rugi, lapora laba ditahan dan laporan perubahan posisi keuangan.
c. Informasi Akuntansi manajemen. Informasi akuntansi ini disajikan kepada manajemen perusahaan dalam berbagai laporan keuangan seperti anggaran, laporan penjualan, laporan biaya pemasaran.

D. Perkembangan Akuntansi Manajemen
Praktek-praktek akuntansi manajemen dituntut untuk melakukan suatu pengembangan yang bersifat inovatif dan relevan. Perkembangan ini disebabkan adanya perubahan lingkungan ekonomi yang dihadapi oleh perusahaan-perusahaan. Tekanan persaingan global telah mengubah lingkungan ekonomi kita, sehingga memaksa perusahaan-perusahaan untuk melakukan perubahan secara drastis terhadap cara mereka menjalankan bisnisnya. Perubahan ini menyebabkan terciptanya lingkungan baru pada akuntansi manajemen.


Efekstif sangat penting bagi peningkatan nilai pelanggan tetutama jika maksimal realisi pelanggan pada biaya serendah mungkin merupakan tujuan bagoi perusahaan
Faktor-faktor utama dari perubahan adalah:
Orientasi Kepada Pelanggan. Perusahaan menciptakan keunggulan kompetitif melalui penciptaan nilai yang lebih baik bagi pelanggan pada tingkat biaya yang sama atau lebih rendah dari pada tingkat harga para pesaingannya. Nilai pelanggan (customer value) adalah selisih antara apa yang pelanggan terima (produk total) dengan apa yang pelanggan berikan. Sedangkan produk total adalah manfaat yang diterima pelanggan baik yang berwujud maupun yang tidak berwujud dari membeli suatu barang. Pengorbanan pelanggan adalah biaya yang dikeluarkan untuk membeli produk, waktu dan usaha yang dikeluarkan untuk mencari dan mempelajari penggunaan produk tersebut dan biaya pasca pembelian. Manajemen value chain yang


Perspektif Lintas Fungsional. Penekanan pada rantai nilai berarti bahwa akuntan manajemen dewasa ini harus memahami tugas-tugas bisnis, mulai dari manufaktur, kepemasaran, ke distrubusi sampai pelayanan kepada konsumen. Kebutuhan tentang ini semakin besar pada saat perusahaan terlibat dalam perdagangan internasional. Mengapa sekarang harus menghubungkan antara akuntansi manajemen dengan pemasaran, manajemen. keuangan dan fungsi-fungsinya lainnya? Hal ini terjadi dengan alasan saat pendekatan nilai rantai digunakan dan nilai pelanggan diutamakan.
Terlihat bahwa fungsi-fungsi tersebut saling terkait. Suatu keputusan mempengaruhi satu keputusan akan mempengaruhi keputusan lainnya. Sebagai contoh, banyak perusahaan manufaktur yang menjalankan praktek frequent trade loading. Praktek yang merangsang pedagang besar dan pengecer untuk membeli lebih banyak produk dari yang mampu mereka jual dengan cepat. Akibatnya persediaan menumpuk dan pedagang besar dan pengecer menghentikan pembelian selama tetapi waktu tertentu. Ini sepertinya masalah pemasaran, sebenarnya bukan masalah pemasaran saja, tetapi juga fungsi yang lain. Ketika penjualan terhenti, produksi juga akan terhenti, sehingga mengalami ketika menentuan dalam produksinya.


Persaingan Global. Perkembangan sarana tranportasi dan komunikasi yang cepat telah menciptakan suatu pasar yang global bagi perusahaan manufaktur dan jasa. Beberapa waktu yang lalu, perusahaan diluar negeri bukan merupakan pesaing karena pasar dipisahkan oleh letak geografis. Sekarang, mobil yang diproduksi di Jepang, dikirim ke Amerika Serikat dalam jangka waktu 2 minggu. Bankir investasi dan konsultan manajemen dapat berkomunikasi kantor luar negeri dalam sekejap. Perkembangan dan tranportasi telah meningkatkan kontribusi telekomunikasi persaingan bagi semua perusahaan. Karena ketatnya persaingan, biaya pengambilan keputusan yang buruk karena didasarkan pada mutu informasi yang rendah telah meningkat tajam. Karena itu, peningkatan persaingan global telah menciptakan kebutuhan akan informasi akuntansi manajemen yang baik.

Manajemen Mutu Total (TQM). Keunggulan manufaktur adalah kunci untuk bertahan hidup dalam lingkungan persaingan global dewasa ini. Filosofi dari manajemen mutu total (total quality management), dimana perusahaan berusaha menciptakan satu lingkungan yang memungkinkan pekerjanya menghasilkan produk sempurna (zero defect), sedang menggantikan 'prinsip mutu' yang dapat diterima di masa lalu. Peningkatan penekanan mutu ini juga menciptakan kebutuhan akan adanya suatu sistem akuntansi manajemen yang menyediakan informasi keuangan dan nonkeuangan tentang mutu.
Waktu Sebagai Unsur Kompetitif. Waktu adalah unsur penting dari semua tahap value chain. Perusahaan bertaraf dunia mengurangi waktu yang dibutuhkan untuk mencapai pasar dengan cara memperpendek siklus disain, implementasi, dan produksi. Perusahaan itu mengirim produk atau jasanya dengan cepat melalui penghapusan waktu yang tidak bernilai tambah, waktu yang tidak berguna bagi pelanggan. Tujuan keseluruhannya adalah meningkatkan daya tanggap terhadap pelanggan (customer responsiveness). Tingkat inovasi teknologi telah meningkat dalam banyak industri dan umur suatu produk dapat semakin pendek. Manajer harus mampu merespon secara Tepat dan cepat kondisi perubahan pasar informasi yang memungkinkan harus mampu menyelesaikan masalah ini harus tersedia Kemajuan Teknologi Informasi. Teknologi informasi mempunyai hubungan dengan dua peningkatan kemajuan. Pertama berkaitan erat dengan manufaktur yang terintergrasi dengan komputer (computer intergrated manufacturing). Kemajuan kedua menyediakan alat-alat yang dibutuhkan, seperti tersedianya personal komputer, software kertas kerja dan paket-paket grafis.

Dengan proses produksi terotomasi, komputer digunakan untuk memonitor dan mengendalikan berbagai operasi. Disamping itu, komputer bermanfaat bagi manajer, karena sejumlah besar informasi berguna dapat dikumpulkan dan dilaporkan dengan segera. Otomasi meningkatkan kuantitas dan kecepatan informasi. Karena manajer memanfaatkan nilai dari sistem informasi lebih kompleks, maka mereka harus memiliki akses data dari sistem dan mampu memilah serta menganalisisnya secara cepat, tepat dan efisien. Komputer personal berfungsi sebagai penghubung komunikasi ke sistem informasi perusahaan dan kertas kerja serta program grafik memberi manajer kemampuan analistis untuk menggunakan informasi tersebut.

Kemajuan Lingkungan Manufaktur. Kemajuan di bidang teknologi dan proses produksi mempunyai dampak yang cukup besar terhadap lingkungan manufaktur seperti sistem kakulasi biaya produksi, sistem pengendalian, perilaku dan daya lacak biaya, penganggaran modal, dan lain-lain. Sistem manufaktur tradisional adalah produksi diteruskan oleh sistem dan usaha-usaha selanjutnya dilakukan untuk menjual sebanyak mungkin unit yang diproduksi. Sistem just in time adalah sistem yang memproduksi barang hanya ketika produk dibutuhkan dan hanya dalam jumlah yang diminta oleh konsumen.

Pertumbuhan dan Deregulasi dalam Industri Jasa. Dalam era deregulasi, banyak isu yang dihadapi industri manufaktur mulai muncul pada sektor jasa, produktifitas, efesiensi biaya, kepuasan pelanggan, dan persaingan berdasarkan waktu. Isu-isu persaingan ini membuat manajer perusahaan lebih sadar terhadap kebutuhan pemanfaatan informasi akuntansi manajemen dalam perencanaan, pengendalian dan pengambilan keputusan. Dengan kebutuhan akan informasi dan produktifitas yang lebih baik, sektor jasa akan meningkatkan permintaannya terhadap informasi
akuntansi manajamen.

Manajemen Berdasarkan Aktivitas (ABN). Permintaan terhadap informasi akuntansi manajemen yang akurat dan relevan telah menyebabkan berkembangnya konsep manajemen berdasarkan aktifitas (Activity Based Management). Activity Based Management (ABM) adalah suatu sistem yang luas, pendekatan terintergrasi yang memfokuskan perhatian manajemen pada aktifitas dengan tujuan meningkatkan nilai pelanggan dan keuntungan. ABM mengutamakan kalkulasi biaya berdasarkan aktifitas dan analisis nilai proses. ABM meningkatkan akurasi pembebanan biaya karena melakukan penelusuran biaya aktifitas dan selanjutnya biaya produk atau pelanggan yang mengkomsumsi berbagai aktifitas tersebut. Analisis nilai proses mengutamakan analisis aktifitas mencoba menentukan bagaimana aktifitas dilakukan dan bagaimana hasil dari aktifitas tersebut.



E. Kesimpulan
Sistem informasi akuntansi pada suatu organisasi memiliki dua subsistem utama: sistem akuntansi manajemen dan sistem keuangan. Sistem informasi akuntansi keuangan berhubungan dengan penyediaan keluaran bagi pengguna eksternal. Tujuan akuntansi manajemen adalah membantu manajemen dalam pembuatan keputusan manajemen dan membantu manajemen dalam melaksanakan fungsi perencanaan, membantu manajemen dalam menjawab masalah organisasi, membantu manajemen dalam melaksanakan fungsi pengendalian manajemen dan membantu manajemen dalam melaksanakan sistem kegiatan manajemen.

Praktek-praktek akuntansi manajemen dituntut untuk melakukan suatu pengembangan yang bersifat inovatif dan relevan. Perkembangan ini disebabkan adanya perubahan lingkungan ekonomi yang dihadapi oleh perusahaan- perusahaan. Tekanan persaingan global telah mengubah lingkungan ekonomi kita, sehingga memaksa perusahaan-perusahaan untuk melakukan perubahan secara dratis terhadap cara mereka menjalankan bisnisnya. Perubahan ini menyebabkan terciptanya lingkungan baru pada akuntansi manajemen.


Faktor-faktor utama dari perubahan adalah:
Orientasi Kepada Pelanggan.
Perspektif Lintas Fungsional.
Persaingan Global.
Manajemen Mutu Total (TQH).
Waktu Sebagai Unsur Kompetitif.
Kemajuan Teknologi Informasi.
Kemajuan Lingkungan Manufaktur.
Pertumbuhan dan Deregulasi dalam Industri Jasa.


Semoga tulisan diatas dapat membantu kamu yang lagi nyari informasi tentang Akuntansi Keuangan dan Akuntansi Manajemen

DAFTAR PUSTAKA
Anthony, R.N., Accounting Text and Cases, Edisi 8, Homewood, Illinois: Richard D. Irwin,

Garrison, R,H. Managerial Accounting: Concept for Planning, Control, Decesion Making, Fourth Edition, Plano, Texas: Business Publication, Inc, 1992.

Hansen Don R" Mowen Maryanne M., Management Accounting, Fourth Edition, International Thomson Publishing, 1997.

Polimeni, Ralph S. et, all, Cost Accounting: Concept and Application for Manageria Decision Making, Third Edition, New York: McGraw-Hill Book Company, 1988

Supriyono, Akuntansi Manajemen, edisi pertama, BPFE, Yogyakarta, 1990,


sumber : http://kamaluddin86.blogspot.com/2010/04/perbedaan-manajemen-akuntasi-dengan.html

Saturday, August 14, 2010

Structural Equation Model dan Partial Least Square

belajar bahasa inggris cepat tanpa grammar pertama kali di Indonesia
Yang sedang belajar Statistik pasti tau mengenai Structural Equation Model dan Partial Least Square, mari kita lihat lebih lanjut tentang Structural Equation Model (SEM) dan Partial Least Square (PLS) ini. mulai dari Pengertian, kelebihan dari PLS dan SEM.

Structural Equation Model (SEM) adalah covariance based, sedangkan Partial Least Square (PLS) adalah component based

Kapan saat membutuhkan SEM dengan PLS (selanjutnya kita sebut dengan PLS saja)?
o Model penelitian mengindikasikan lebih dari satu variabel dependen
o Data tidak bersifat multivariate normal
o Sampel kecil atau jumlah cases terbatas
o Model penelitian melibatkan item formatif dan item refleksif sekaligus.
Kelebihan PLS adalah kemampuannya memetakan seluruh jalur ke banyak variabel dependen dalam satu model penelitian yang sama dan menganalisis semua jalur dalam model struktural secara simultan. (Fornell and Bookstein, 1982; Barclay, Higgins, and Thompson, 1995; Gefen, Straub, and Boudreau, 2000). Kelebihan lainnya adalah hanya memerlukan sedikit cases daripada SEM (Chin and Newsted, 1999; Gefen, Straub, and Boudreau, 2000).

Dalam PLS data tidak perlu memenuhi asumsi multivariate normal.
Analisis SEM mengasumsikan seluruh item/indikator adalah reflektif. Sedangkan PLS bisa reflektif dan formatif.

Reflektif:

Formatif:



* Chin (1998a) menyarankan untuk membedakan apakah suatu item formatif atau tidak dengan mengajukan pertanyaan berikut: apakah perubahan pada satu item akan menimbulkan perubahan dengan arah yang sama pada item lainnya? Jika jawabannya tidak berarti kelompok item tersebut formatif.
* Penggunaan item formatif dalam SEM bisa mengakibatkan permasalahan serius terkait validitas hasil dan konklusinya. Chin (1998a) mengatakan:”… semua item harus reflektif agar konsisten dengan algoritma statistiknya yang mengasumsikan bahwa korelasi diantara indikator dalam satu Laten Variabel (LV) disebabkan oleh LV tersebut.

* Prosedur analisis data pada SEM-PLS bisa dijelaskan sebagai berikut:

“At the measurement model level, PLS estimates items loading and covariance. At the structural level, PLS estimates path coefficients and correlation among Latent Variables, together with individual R2 and AVE (Average Variance Extracted) of each of the latent constructs. T-values of both path and loadings are then calculated using either jackknife or a bootstrap method. Good model fit is established with significant path coefficients, acceptably high R2 and internal consistency (construct reliability) being above 0.70 for each construct” (Gefen, Straub, and Boudreau, 2000).

* Barclay et al. (1995) menyarankan bahwa model PLS dianalisis dan diinterpretasikan dalam dua langkah berurutan berikut: pertama, menilai validitas dan reliabilitas model pengukuran (hubungan dari indikator ke laten variabel), kedua lalu menilai model strukturalnya.

* Cross Validation diperlukan dalam rangka menguji seberapa baik solusi yang diperoleh dari fitting model terhadap suatu sampel juga akan sesuai untuk sampel independen lainnya dari populasi yang sama (Chin and Todd, 1995).

* Statistik dari measurement model yang penting yaitu: item reliability, internal consistency, Average Variance Extracted (AVE), square root of AVE, and cross-loadings (Barclay, Higgins, and Thompson, 1995). Tiga uji pertama dikenal sebagai validitas konvergensi (Fornell and Larcker, 1981) dan dua uji terakhir dikenal sebagai validitas diskriminan (Barclay, Higgins, and Thompson, 1995).
* Evaluasi model yang biasa digunakan dalam PLS adalah R-kuadrat, bootstapping/jackknifing, composite reliability, AVE dan cross-loadings.
* R-kuadrat, sebagaimana pada analisis regresi berganda biasa, berfungsi untuk mengetahui seberapa besar variansi dalam construct dapat dijelaskan oleh model.
* Bootstrapping atau alternatifnya, jackknifing, digunakan untuk menilai signifikansi statistik dari loadings dan koefisien structural path. Penggunaan tekhnik ini karena mengacu pada data yang digunakan yang tidak mengasumsikan harus multivariate normal.

Disarikan dari: Achjari, Didi. “PLS: Another Method of SEM Analysis” Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia Vol. 19 No. 3. Tahun 2004.
sumber : http://statistikakomputasi.wordpress.com/2010/05/28/partial-least-squarealternatif-dalam-analisis-structural-equation-model-sem/

Thursday, August 5, 2010

DAMPAK PEMODERASIAN KOMPONEN ARUS KAS TERHADAP HUBUNGAN LABA AKUNTANSI DENGAN RETURN SAHAM

belajar bahasa inggris cepat tanpa grammar pertama kali di Indonesia
DAMPAK PEMODERASIAN KOMPONEN ARUS KAS TERHADAP HUBUNGAN LABA AKUNTANSI DENGAN RETURN SAHAM

PUTU ARI DHARMA LAKSMI

NI MADE DWI RATNADI

Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi, Universitas Udayana

ABSTRACT

Accurate information regarding listed companies is crucial to minimize investment risk. This research aims to examine the effect of accounting income on stock return, and the effect of cash flow from operation, cash flow from investment, and cash flow from financing activities respectively as moderating variables on the relationship between accounting income and stock return of manufacturer listed on the Jakarta Stock Exchange.

There were 161 manufacturing companies listed during 2001 to 2005, and 39 of them are selected as sample research using purposive sampling method. With 5 year research period, there are 195 observations done. Data then are analyzed using multiple linear regressions.

Results show that accounting income affect stock return significantly, which is shown by greater value of t count compare to t table. While cash flow from operation, investment, and financing activities are not able to moderate relationship between accounting income and stock return.

Keywords: moderating variables, cash flow, accounting income, stock return.

I. PENDAHULUAN

Salah satu pilihan berinvestasi di pasar modal adalah investasi dan penanaman modal dalam bentuk saham yang merupakan pemilikan atau pembelian saham-saham perusahaan terbuka oleh para investor dengan tujuan untuk mendapatkan pendapatan (return) sebagai keuntungan. Namun, berinvestasi di pasar modal memiliki risiko yang sangat besar sehingga para investor memerlukan analisis untuk menilai kelaikan suatu perusahaan yang akan ditanami modal untuk mengurangi risiko-risiko investasi.

Laporan arus kas sebagai komponen penyusun laporan keuangan merupakan salah satu sumber informasi yang juga dapat menjadi perhatian investor. Laporan arus kas ditujukan untuk melaporkan penerimaan dan pengeluaran kas selama satu periode yang berasal dari aktivitas operasi, investasi, dan pendanaan. Dalam Trueblood Report, tujuan laporan keuangan No.3 disebutkan bahwa dasar kepentingan investor dan kreditor dalam laporan keuangan adalah aliran kas perusahaan tanpa menyebutkan income bersih. Kepentingan investor dan kreditor atas informasi aliran kas meliputi jumlah, waktu, dan tingkat ketidakpastiannya (Belkaoui, 2000:129).

Bowen et al. (1986) menyatakan bahwa manfaat dari laporan arus kas adalah untuk memprediksi kegagalan, menaksir risiko, memprediksi pemberian pinjaman, penilaian perusahaan, dan memberikan informasi tambahan pada pasar modal. T.A. Lee, B.E. Hick, dan R.H. Ashton dalam Harahap (2001:242) menyatakan bahwa informasi yang disajikan cash flow accounting lebih bermanfaat dalam menilai atau menganalisis keputusan, baik tentang investasi saham maupun untuk tujuan peramalan arus kas lainnya.

Informasi penting lainnya yang dapat digunakan oleh investor untuk menilai kinerja perusahaan adalah laba. Dalam Statement of Financial Accounting Concepts (SFAC) No. 1 dinyatakan dengan jelas bahwa pentingnya informasi laba selain untuk menilai kinerja manajemen dapat pula digunakan untuk memprediksi kemampuan laba serta menaksir risiko dalam investasi dan kredit. Keberadaan informasi laba dan arus kas dipandang oleh pemakai informasi sebagai suatu hal yang saling melengkapi guna mengevaluasi kinerja perusahaan secara keseluruhan.

Wilson (1986, 1987) dan Bowen et al. (1986) menguji kandungan informasi arus kas dan laba akrual dengan return saham. Hasil penelitian tersebut menunjukkan adanya kandungan informasi pada data arus kas. Laporan arus kas harus disajikan dengan memerinci komponen-komponen arus kas dari aktivitas-aktivitas operasi, investasi, dan pendanaan. Pembedaan komponen-komponen arus kas ini penting karena tiap-tiap komponen tersebut dianggap mempunyai pengaruh yang berbeda-beda terhadap return sekuritas.

Livnat dan Zarowin dalam Kumalahadi (2003) menemukan bukti bahwa komponen-komponen arus kas dari aktivitas operasi dan pendanaan mempunyai hubungan yang signifikan dengan return saham. Sebaliknya, komponen-komponen arus kas dari aktivitas investasi tidak mempunyai hubungan yang signifikan dengan return saham. Beberapa penelitian telah membuktikan bahwa informasi laba dan atau informasi arus kas secara signifikan memiliki hubungan dengan return saham.

Karena keberadaan informasi laba sudah lebih dulu diteliti dibandingkan dengan informasi arus kas, ada kemungkinan keberadaan informasi arus kas adalah sebagai tambahan informasi yang dapat memperkuat hubungan itu dalam bentuk sebagai variabel pemoderasi.

II. KAJIAN PUSTAKA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS

Pengaruh Laba Akuntansi terhadap Return Saham
Menurut Husnan dan Pudjastuti (1998:134) perusahaan yang memiliki kemampuan untuk meningkatkan laba, cenderung harga sahamnya juga akan meningkat. Maksudnya jika perusahaan memperoleh laba yang semakin besar, maka secara teoretis perusahaan akan mampu membagikan dividen yang semakin besar dan akan berpengaruh secara positif terhadap return saham. Ali (1994) dalam Triyono (2000) menguji kandungan informasi dari laba, modal kerja operasi, dan arus kas dengan model regresi linear dan nonlinear. Hasil studinya menemukan bahwa ketiga variabel tersebut memiliki hubungan dengan return saham dalam regresi nonlinear.

Ball dan Brown (1968) dalam Parawiyati (2000) menemukan bahwa di samping ada hubungan antara laba dengan abnormal rate of return, laba juga memberikan potensi informasi. Sebaliknya, Triyono (2000), Pradnyawati (2004), Lestyawati (2004) tidak menemukan adanya kandungan informasi dalam hubungannya dengan return.

H1: Laba akuntansi berpengaruh terhadap return saham.

Pengaruh Pemoderasian Komponen Arus Kas terhadap Hubungan Antara Laba Akuntansi dengan Return Saham

Tujuan laporan keuangan nomor 3 dalam Trueblood Report disebutkan bahwa dasar kepentingan investor dan kreditor dalam laporan keuangan adalah laporan aliran kas perusahaan, tanpa menyebutkan income bersih. Artinya laporan aliran kas memiliki kandungan informasi untuk kepentingan investor dan kreditor dalam melakukan investasi. Penelitian Bowen et al. (1986) menemukan bahwa arus kas merupakan prediktor yang lebih baik daripada laba dalam memprediksi arus kas masa mendatang yang dilakukan dengan menggunakan model random walk.

Miller dan Rock dalam Triyono (2000) menemukan bahwa laporan arus kas memberikan informasi yang cukup bagi investor untuk menginvestasikan dananya. Livnat dan Zarowin (1990) dalam Kumalahadi (2003) menemukan bukti empiris bahwa komponen-komponen arus kas dari aktivitas operasi dan pendanaan memiliki hubungan yang signifikan dengan return saham, sedangkan arus kas investasi tidak memiliki hubungan signifikan dengan return saham.

H2: Arus kas operasi mampu memoderasi hubungan antara laba akuntansi dengan return saham.

H3: Arus kas investasi mampu memoderasi hubungan antara laba akuntansi dengan return saham.

H4: Arus kas pendanaan mampu memoderasi hubungan antara laba akuntansi dengan return saham.

III. METODE PENELITIAN Populasi dan Sampel

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan manufaktur yang terdaftar pada Bursa Efek Jakarta periode 2001– 2005. Penentuan sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode purposive sampling, yaitu pengambilan sampel yang dilakukan sesuai dengan kriteria sampel yang dikehendaki. Pemilihan sampel menggunakan metode purposive sampling mengakibatkan hasil penelitian tidak bisa digeneralisasi sehingga hasil penelitian ini hanya berlaku untuk sampel yang dipilih. Adapun kriteria yang digunakan untuk menentukan sampel adalah perusahaan manufaktur telah terdaftar sebelum 2001, menerbitkan laporan keuangan per 31 Desember, dan memperoleh laba akuntansi terus-menerus dari tahun 2001–2005.

Perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta yang memenuhi semua kriteria tersebut di atas sebanyak 39 perusahaan.

Definisi Operasional Variabel

Definisi operasional dari variabel-variabel yang dibahas dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

(1) Return saham (Y) adalah pendapatan yang diterima oleh para pemegang saham dalam bentuk dividen dan capital gain yang dihitung dengan cara membandingkan antara dividen yang dibagikan ditambah dengan selisih harga penutupan saham tahun sekarang dengan tahun sebelumnya dibagi dengan harga penutupan saham pada periode sebelumnya.

Rit = Pi t – Pi t-1 +Di t ........................................................................... (1)

Pi t-1

Keterangan:

Ri = return saham perusahaan i pada periode ini (t)

Pi t = harga penutupan saham perusahaan i pada periode ini (t)

Pi t-1 = harga penutupan saham perusahaan i pada periode sebelumnya (t-l)

Di = dividen yang dibagikan oleh perusahaan i pada periode ini (t)

(2) Laba akuntansi (LAk) merupakan hasil bersih setelah pajak. Laba akuntansi perusahaan manufaktur di Bursa Efek Jakarta dilihat pada laporan laba rugi tahunan perusahaan 2001–2005.

(3) Arus kas adalah informasi tentang kas masuk dengan kas keluar. Arus kas ada tiga, yaitu sebagai berikut.

a. Arus kas operasi (AKO) adalah aliran kas dari aktivitas penghasil utama pendapatan perusahaan dan aktivitas lain yang bukan merupakan aktivitas investasi dan aktivitas pendanaan.

b. Arus kas investasi (AKI) adalah aliran kas dari pelepasan atau pemerolehan aktiva jangka panjang serta investasi lain yang tidak termasuk setara kas.

c. Arus kas pendanaan (AKP) adalah aliran kas dari aktivitas yang mengakibatkan perubahan jumlah serta komposisi modal dan pinjaman perusahaan.

Metode Pengumpulan Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi harga saham pembukaan dan penutupan, laporan laba rugi, aliran kas, neraca perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta tahun 2001-2005. Sumber data diperoleh dari Indonesian Capital Market Directory (ICMD) dan situs internet www.jsx.co.id.

Teknik Analisis Data

Teknis analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis regresi linear berganda. Analisis regresi linear berganda ini digunakan untuk mengetahui atau memperoleh gambaran mengenai pengaruh pemoderasian arus kas terhadap hubungan antara laba dengan return saham dengan bantuan program komputer Statistical Package for Social Science (SPSS). Model regresi linear yang digunakan untuk tiap-tiap hipotesis adalah sebagai berikut.

(1) Hipotesis pertama akan diuji dengan model regresi sederhana sebagai berikut:

RS = a + b1 LAk + e ........................................................... (2)

(2) Hipotesis kedua akan diuji dengan model regresi berganda sebagai berikut:

RS = a + b1 Lak + b2 AKO + b3 Lak.AKO + e ....................... (3)

(3) Hipotesis ketiga akan diuji dengan model regresi berganda sebagai berikut:

RS = a + b1 Lak + b2 AKI + b3 Lak.AKI + e ........................ (4)

(4) Hipotesis keempat akan diuji dengan model regresi berganda sebagai berikut:

RS = a + b1 Lak + b2 AKP + b3 Lak.AKP + e ........................ (5)

Keterangan:

RS = return saham

LAk = laba akuntansi

AKO = arus kas operasi

AKI = arus kas investasi

AKP = arus kas pendanaan

a = konstanta b1, b2, b3, = koefisien regresi

e = error

Selain pengujian dengan regresi linear berganda juga dilakukan pengujian statistik deskriptif dan uji asumsi klasik.

Analisis Variabel Moderator

Hipotesis diuji dengan analisis regresi dengan membandingkan tingkat signifikansi (sig.t) antara hasil yang diperoleh dalam analisis tingkat keyakinan 95%. Kemudian nilai signifikansi t dinilai dengan ketentuan sebagai berikut.

Untuk H2, H3, H4 bila signifikansi (sig.t) dari koefisien variabel bebas b1, b2, b3, lebih kecil dari 0,05 berarti hipotesis 2, 3, 4 diterima. Hal ini berarti bahwa variabel pemoderasi arus kas operasi, arus kas investasi, dan arus kas pendanaan berpengaruh secara signifikan terhadap hubungan antara laba akuntansi dengan return saham.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN Statistik Deskriptif

Pada Tabel 1 disajikan statistik deskriptif dari variabel-variabel yang diteliti pada persamaan regresi 2. Tabel 2 menyajikan statistik deskriptif dari variabel-variabel yang diteliti pada persamaan regresi 3. Tabel 3 menunjukkan statistik

deskriptif dari variabel-variabel yang diteliti pada persamaan regresi 4, sedangkan Tabel 4 untuk persamaan regresi 5.

Uji Asumsi Klasik

Sebelum dianalisis dengan teknik analisis linear berganda dilakukan uji asumsi klasik untuk mengetahui apakah hasil estimasi regresi yang dilakukan memenuhi uji normalitas, bebas dari gejala heteroskedastisitas, multikolinearitas, dan autokorelasi. Hasil uji asumsi klasik menunjukkan bahwa regresi layak dilakukan.

Regresi Simultan (F-test)

Berdasarkan uji Anova atau F test pada Tabel 5 diperoleh nilai Fhitung persamaan regresi 3 sebesar 2,726 yang berarti lebih besar daripada F tabel,yaitu 2,6 dengan tingkat signifikansi sebesar 0,045. Karena Fhitung lebih besar daripada F tabel dan probabilitas signifikansi lebih kecil daripada 5% atau 0,05, maka model regresi dapat digunakan untuk memprediksi return saham. Jadi, dapat dikatakan bahwa laba akuntansi, arus kas operasi, dan variabel interaksi antara laba akuntansi dengan arus kas operasi secara simultan berpengaruh terhadap return saham.

Pada Tabel 6 terdapat nilai adjusted R square sebesar 0,026. Hal ini berarti bahwa variasi total dari variabel terikat return saham yang dijelaskan oleh variabel independen (laba akuntansi, arus kas operasi, dan variabel interaksi antara laba akuntansi dengan arus kas operasi) adalah 2,6 %, sedangka 97,4% dijelaskan oleh variabel di luar model ini.

Pada Tabel 7 dapat dilihat hasil uji Anova persamaan regresi 4, yaitu nilai Fhitung sebesar 2,901 dan Ftabel sebesar 2,6 dengan tingkat signifikansi sebesar 0,036. Karena Fhitung lebih besar daripada F tabel dan probabilitas signifikansi lebih kecil daripada 5% atau 0,05, maka model regresi dapat digunakan untuk memprediksi return saham. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa laba akuntansi, arus kas investasi, dan variabel interaksi antara laba akuntansi dengan arus kas investasi secara simultan berpengaruh terhadap return saham.

Pada Tabel 8 terdapat nilai adjusted R square sebesar 0,029. Hal ini berarti bahwa variasi total dari variabel terikat return saham yang dijelaskan oleh variabel independen (laba akuntansi, arus kas investasi, dan variabel interaksi antara laba akuntansi dengan arus kas investasi) adalah 2,9%, sedangkan 97,1% dijelaskan oleh variabel di luar model ini.

Pada Tabel 9 dapat dilihat hasil uji Anova persamaan regresi 4, nilai Fhitung sebesar 2,672 dan Ftabel sebesar 2,6 dengan tingkat signifikansi sebesar 0,049. Karena Fhitung lebih besar daripada F tabel dan probabilitas signifikansi lebih kecil daripada 5% atau 0,05, maka model regresi dapat digunakan untuk memprediksi return saham. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa laba akuntansi, arus kas pendanaan, dan variabel interaksi antara laba akuntansi dengan arus kas pendanaan secara simultan berpengaruh terhadap return saham.

Pada Tabel 10 terdapat nilai adjusted R square sebesar 0,025. Hal ini berarti bahwa variasi total dari variabel terikat return saham yang dijelaskan oleh variabel independen (laba akuntansi, arus kas pendanaan, dan variabel interaksi antara laba akuntansi dengan arus kas pendanaan) adalah 2,5%, sedangkan 97,5% dijelaskan oleh variabel di luar model ini.


Pengujian Hipotesis
Berdasarkan hasil analisis pada Tabel 11 dapat disusun persamaan regresi sebagai berikut.

RS = 0,111 + 1,01 E-13 LAk +e

Arti dari koefisien regresi di atas adalah sebagai berikut.

(1) Konstanta (a) = 0,111, berarti bila nilai laba akuntansi (LAk) konstan atau perubahannya sama dengan nol, maka nilai return saham (RS) adalah sebesar 0,111.

(2) b1 = 1,01 E-013, berarti apabila variabel laba akuntansi (LAk) bertambah satu satuan (1 rupiah) maka, return saham akan meningkat sebesar 1,01 E-13 satuan.

12

Pengujian Hipotesis Pertama
Pengujian hipotesis pertama yang menyatakan bahwa laba akuntansi berpengaruh signifikan terhadap return saham, dapat dilihat pada Tabel 12 bahwa variabel laba akuntansi yang dimasukkan dalam model regresi menunjukkan nilai thitung sebesar 2,538 yang berarti lebih besar daripada ttabel, yaitu 1,960 sehingga Ho ditolak dan Hi diterima. Sebaliknya, tingkat signifikansinya adalah 0,012 yang berarti lebih kecil daripada tingkat signifikan 5% atau 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel laba akuntansi mempunyai pengaruh signifikan terhadap return saham. Hasil dari persamaan model regresi linear tersebut menunjukkan arah positif (searah) antara variabel bebas (laba akuntansi) dengan variabel terikat (return saham). Jadi, dapat disimpulkan bahwa hipotesis pertama yang menyatakan bahwa laba akuntansi berpengaruh signifikan terhadap return saham terbukti sehingga hipotesis pertama diterima.

Laba akuntansi berpengaruh signifikan terhadap return saham karena laba atau keuntungan yang diperoleh dari kegiatan operasional perusahaan akan dibagikan kepada pemegang saham sebagai balas jasa telah menanamkan modalnya dalam perusahaan atau yang biasa disebut dengan dividen. Nantinya dividen tersebut merupakan salah satu komponen penyusun return saham selain capital gain. Perusahaan yang menghasilkan laba semakin besar, maka secara teoretis perusahaan itu akan mampu membagikan dividen yang semakin besar. Dengan meningkatnya dividen yang diterima oleh pemegang saham, maka return yang diterima oleh pemegang saham juga akan meningkat. Hasil penelitian ini mendukung hasil penelitian yang telah dilakukan Ball dan Brown (1968) dalam Parawiyati (2000) yang menemukan bahwa ada hubungan antara laba dengan abnormal rate of return dan laba juga memberikan potensi informasi. Penelitian ini juga mendukung hasil penelitian Ali (1994) dalam Triyono (1998) yang menemukan bahwa laba akuntansi mempunyai hubungan dengan return saham. Akan tetapi, hasil penelitian ini bertentangan dengan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Triyono (1998), Pradnyawati (2004), dan Lestiawati (2004).

Pengujian Hipotesis Kedua

Pengujian hipotesis kedua yang menyatakan bahwa arus kas operasi secara signifikan mampu memoderasi hubungan antara laba akuntansi dengan return saham dapat dilihat pada Tabel 13. Tabel itu menunjukkan bahwa variabel laba akuntansi, arus kas operasi, dan variabel interaksi antara laba akuntansi dengan arus kas operasi yang dimasukkan dalam model regresi memiliki tingkat signifikansi yang berbeda. Variabel laba akuntansi memiliki tingkat signifikansi sebesar 0,204, arus kas operasi emiliki tingkat signifikansi sebesar 0,517, dan variabel interaksi antara laba akuntansi dengan arus kas operasi memiliki tingkat signifikansi sebesar 0,793 dengan thitung sebesar 0,263. Karena tingkat signifikansi lebih besar daripada 5% atau 0,05, maka interaksi laba akuntansi dengan arus kas operasi tidak berpengaruh terhadap return saham. Jadi, dapat disimpulkan bahwa arus kas operasi tidak mampu memoderasi hubungan antara laba akuntansi dengan return saham sehingga hipotesis kedua tidak diterima.

Arus kas operasi secara parsial tidak dapat memoderasi hubungan antara laba akuntansi dengan return saham. Hal ini disebabkan oleh kemungkinan informasi yang terkandung dalam arus kas operasi belum sepenuhnya digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan dalam pasar modal. Hasil penelitian ini bertentangan dengan hasil penelitian Livnat dan Zarowin (1990), tetapi mendukung penelitian yang dilakukan oleh Wilson dan Rayburn (1968) dalam Triyono (1998) yang menyatakan bahwa arus kas operasi tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap return saham.

Pengujian Hipotesis Ketiga

Pengujian hipotesis ketiga yang menyatakan bahwa arus kas investasi secara signifikan mampu memoderasi hubungan antara aba akuntansi dengan return saham, dapat dilihat pada Tabel 14. Pada table itu dinyatakan bahwa variabel laba akuntansi, arus kas investasi, dan variabel interaksi antara laba akuntansi dengan arus kas investasi yang dimasukkan dalam model regresi memiliki tingkat signifikansi yang berbeda. Variabel laba akuntansi memiliki tingkat signifikansi sebesar 0,006, arus kas investasi memiliki tingkat signifikansi sebesar 0,307, dan variabel interaksi antara laba akuntansi dengan arus kas investasi memiliki tingkat signifikansi sebesar 0,948 dengan thitung sebesar -0,065. Karena tingkat signifikansi lebih besar daripada 5% atau 0,05 maka interaksi laba akuntansi dengan arus kas investasi tidak berpengaruh terhadap return saham. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa arus kas investasi tidak mampu memoderasi hubungan antara laba akuntansi dengan return saham sehingga hipotesis ketiga tidak diterima.

Arus kas investasi secara parsial tidak dapat memoderasi hubungan antara laba akuntansi dengan return saham. Hal ini disebabkan oleh kemungkinan informasi yang terkandung dalam arus kas investasi belum sepenuhnya digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan dalam pasar modal. Hasil penelitian ini bertentangan dengan hasil penelitian Miller dan Rock (1985) dalam Triyono (1998), tetapi mendukung penelitian yang dilakukan Livnat dan Zarowin (1990) yang menyatakan bahwa arus kas nvestasi tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap return saham.

Pengujian Hipotesis Keempat

Pengujian hipotesis keempat yang menyatakan bahwa arus kas pendanaan secara signifikan mampu memoderasi hubungan antara laba akuntansi dengan return saham dapat dilihat pada Tabel 15. Tabel itu menyatakan bahwa variabel laba akuntansi, arus kas pendanaan, dan variabel interaksi antara laba akuntansi dengan arus kas pendanaan yang dimasukkan dalam model regresi memiliki tingkat signifikansi yang berbeda. Variabel laba akuntansi memiliki tingkat signifikansi sebesar 0,014, arus kas pendanaan memiliki tingkat signifikansi sebesar 0,209, dan variabel interaksi antara laba akuntansi dengan arus kas investasi memiliki tingkat signifikansi sebesar 0,284 dengan thitung sebesar 1,075. Karena tingkat signifikansi lebih besar daripada 5% atau 0,05, maka interaksi laba akuntansi dengan arus kas pendanaan tidak berpengaruh terhadap return saham. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa arus kas pendanaan tidak mampu memoderasi hubungan antara laba akuntansi dengan return saham sehingga hipotesis keempat tidak diterima.

Arus kas pendanaan secara parsial tidak dapat memoderasi hubungan antara laba akuntansi dengan return saham. Hal ini isebabkan oleh kemungkinan informasi yang terkandung dalam arus kas pendanaan belum sepenuhnya digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan dalam pasar modal. Hasil penelitian ini bertentangan dengan hasil penelitian Livnat dan Zarowin (1990) yang menyatakan bahwa arus kas pendanaan mempunyai hubungan yang signifikan terhadap return saham. Di samping itu, juga bertentangan dengan penelitian Miller dan Rock (1985) dalam Triyono (1998) yang memprediksikan bahwa perubahan yang tercermin dalam arus kas pendanaan mempunyai hubungan dengan return saham.

V. SIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan mengenai perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta yang telah diuraikan sebelumnya dengan tingkat keyakinan 95% dapat disimpulkan sebagai berikut.

(1) Laba akuntansi berpengaruh signifikan terhadap return saham.

(2) Arus kas operasi tidak mampu memoderasi hubungan antara laba akuntansi dengan return saham.

(3) Arus kas investasi tidak mampu memoderasi hubungan antara laba akuntansi dengan return saham.

(4) Arus kas pendanaan tidak mampu memoderasi hubungan antara laba akuntansi dengan return saham.

Berdasarkan simpulan dapat dikemukakan beberapa saran, yaitu sebagai berikut.

(1) Investor dapat menggunakan laba akuntansi sebagai salah satu dasar pertimbangan dalam pengambilan keputusan untuk melakukan investasi karena dalam penelitian ini diperoleh hasil bahwa laba akuntansi berpengaruh signifikan terhadap return saham.

(2) Untuk penelitian lanjutan yang terkait dengan penelitian ini disarankan peneliti menggunakan sampel seluruh perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta dan periode penelitian yang lebih panjang agar hasil penelitian dapat digeneralisasi. Di samping itu, menggunakan variabel terikat yang berbeda, misalnya harga saham serta menambahkan variabel bebas dalam penelitiannya, seperti kinerja keuangan.

(3) Menggunakan variabel pemoderasi lain dalam hubungan antara laba akuntansi dengan return saham, misalnya dengan menggunakan total arus kas, free cash flow, devident payot ratio (DPR) karena terbukti dalam penelitian ini arus kas operasi, arus kas investasi, arus kas pendanaan tidak mampu memoderasi hubungan antara laba akuntansi dengan return saham.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmed Riahi – Belkaoui. 2000. Teori Akuntansi Buku 1. Jakarta: Salemba Empat.

Ayu Eka Pradnyawati, Putu. 2004. “Pengaruh Komponen Arus Kas dan Laba Akuntansi terhadap Return Saham pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Jakarta”. Skripsi Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Udayana Denpasar

Bambang Riyanto. 2001. Dasar-Dasar Pembelanjaan Perusahaan. Yogyakarta: BPFE.

Bowen, Robert M., David Burgstahker, and Lane A, Daley. 1986. “Evidence on The Relationship between Earnings and Various Measures of Cash Flows”. The Accounting Review. XI. No. 4. October: 213–225.

Gujarati, Damodar. 2003. Ekonometrika Dasar. Jakarta: Erlangga.

Ikatan Akuntan Indonesia. 2002. Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan. Jakarta: Ikatan Akuntan Indonesia

Imam Ghozali. 2002. Aplikasi Analis Multivariate dengan Program SPSS. Edisi Kedua. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro.

Indonesian Capital Market Directory (ICMD). 2002–2006.

Jogiyanto Hartono. 2000. Teori Portofolio dan Analis Investasi. Edisi Kedua. Yogyakarta: BPFE.

Jogiyanto Hartono. 2004. Metodelogi Penelitian Bisnis: Salah Kaprah dan Pengalaman-Pengalaman. Cetakan Pertama. Yogyakarta: BPFE

Kamarudin Ahmad. 1996. Dasar-Dasar Manajemen Investasi. Cetakan Pertama. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Kieso, Donald E dan Jerry J. Weygant. 1995. Akuntansi Intermediate. Jilid Tiga. Jakarta: Bina Rupa Aksara.

Kumalahadi. 2003. “Pengaruh Pemoderasi Aliran Kas terhadap Hubungan Antara Set Peluang Investasi dengan Return Saham”. Disertasi Program Doktor Program Studi Ekonomi Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada

20

Yogyakarta.

Nata Wirawan, I Gusti Putu. 2002. Statistik 2 (Statistik Inferensia). Edisi Kedua. Denpasar: Keraras Emas.

Parawiyati dan Zaki Baridwan. 1998. “Kemampuan Laba dan Arus Kas dalam Memprediksi Laba dan Arus Kas Perusahaan Go Public di Indonesia”. Jurnal Riset Akuntansi Indonesia.

Singgih Santoso. 2004. SPSS Mengolah Data Statistik Profesional. Cetakan Keempat. Jakarta: PT Elex Media Komputindo.

Sofyan Syafiri Harahap. 2001. Teori Akuntansi. Edisi Revisi. Jakarta: Rajawali Pers.

Sri Lestiawati, Made. 2004. “Pengaruh Perubahan Total Arus Kas dan Laba Akuntansi terhadap Return Saham pada Perusahaan Manufaktur di Bursa Efek Jakarta”. Skripsi S1 Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Udayana Denpasar.

Suad Husnan dan Enny Pudjastuti. 1998. Dasar-dasar Portofolio dan Analisis Sekuritas. Yogyakarta: UPP AMP YKPN.

Sugiyono. 2001. Metode Penelitian Bisnis. Cetakan Ketiga. Bandung: CV Alfabeta.

Sunariyah. 2000. Pengantar Pasar Modal. Edisi kedua. Yogyakarta: UPP AMP YKPN.

Surya Kartika Sari, Dewa Ayu. 2005. “Pengaruh Pemoderasi Free Cash Flows terhadap Hubungan antara Set Peluang Investasi dengan Return Saham”. Skripsi S1 Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Udayana. Denpasar

Syahri Alhusin. 2002. Aplikasi Statistik Praktik dengan SPSS 10 For Windows. Yogyakarta : J&J Learning.

Triyono dan Jogiyanto Hartono. 2000. “Hubungan Kandungan Informasi Arus Kas, Komponen Arus Kas dan Laba Akuntansi dengan Harga atau Return Saham”. Jurnal Riset Akuntansi Indonesia. 3(1):h:54-67

Wilson P.G. 1987. “The Incremental Information Content of the Accruals and Fund Component of Earnings After Controlling for Earnings”. The Accounting Review. 62:h:293-321.

Zaki Baridwan.2000. Intermediate Accounting. Edisi Ketujuh. Yogyakarta: BPFE.

21

www.jsx.co.id www.bapepam.co.id

22


Thursday, July 29, 2010

Pemberdayaan UMKM

belajar bahasa inggris cepat tanpa grammar pertama kali di Indonesia

Dalam prakteknya, pemberdayaan UMKM sering mengalami kendala minimnya keikutsertaan masyarakat, untuk menggugah partisipasi masyarakat sasaran langkah-langkah yang dilakukan (Karsidi, 2005), adalah:

1. Identifikasi Potensi

2. Analisis Kebutuhan

3. Rencana Kerja Bersama

4. Pelaksanaan Program Kerja Bersama

5. Monitoring dan Evaluasi.

1. Identifikasi Potensi

Identifikasi potensi, dimaksudkan untuk mengetahui karakteristik Sumber daya Manusia (SDM) UKM dan lingkungan internalnya baik lingkungan sosial, ekonomi dan Sumberdaya Alam (SDA) khususnya yang terkait dengan usahanya, maupun lingkungan eksternal UKM. Dengan langkah ini diharapkan setiap gerak kemajuan dapat bertumpu dan memanfaatkan kemampuan dan potensi wilayah masing-masing. Dalam identifikasi ini melibatkan stakeholder UKM dan tokoh masyarakat maupun instansi terkait.

1. Analisis Kebutuhan

Analisis kebutuhan, tahapan analisis ini dilakukan oleh perwakilan UKM yang dapat difasilitasi oleh Perguruan Tinggi/LSM/Swasta, maupun instansi terkait tentang berbagai kebutuhan dan kecenderungan produk dan pasar. Dengan pola analisis kebutuhan semacam ini diharapkan mampu mendorong terwujudnya manifestasi kebutuhan UKM selaku individu pengusaha dan sebagai anggota kelompok. Dengan demikian antara individu pelaku UKM dan kelompok dapat diharapkan saling beriringan dan saling mendukung dalam mencapai tujuan kemajuan bersama.

3. Rencana Program Kerja Bersama

Rencana program kerja bersama, setelah kebutuhan dapat ditentukan maka kemudian disusun sebuah rencana program kerja bersama untuk mencapai kondisi yang diinginkan berdasarkan skala prioritas yang ditetapkan bersama. Dalam tahap ini baik Perguruan Tinggi/LSM/Swasta, maupun instansi terkait sebagai fasilitator.

4. Pelaksanaan Program Kerja Bersama

Pelaksanaan program kerja bersama, jikalau program kerja telah disepakati maka langkah berikutnya adalah pelaksanaan program kerja. Dalam tahap ini fungsi instansi pemerintah terkait selaku fasilitator, sedangkan Perguruan Tinggi/LSM/Swasta dapat bertindak selaku pemberi jasa konsultansi. Sebagai konsultan, idealnya Perguruan Tinggi harus mendapatkan jasa dari layanan yang diberikan kepada UKM.

Kebutuhan akan permodalan UKM salah satunya dapat dipenuhi dengan memperankan fungsi fasilitasi Konsultan Keuangan Mitra Bank (KKMB) bagi pengrajin maupun kelompok. KKMB ini lahir sebagai perubahan paradigma baru terhadap UKM dari perbankan bahwa:

a. UKM mempunyai potensi menabung

b. Bank perlu aktif menjemput Bola

c. UKM membutuhkan kemudahan memperoleh kredit/layanan perbankan

d. Bank perlu memobilisasi tabungan dari UKM

e. Biaya dapat ditekan melalui pendekatan kelompok

f. Risiko dapat ditekan melalui pendekatan kelompok

Selain Bank memberikan kredit sebagai tugas utamanya, Bank dapat membantu UKM dengan memberikan pendampingan (Technical Assistant/TA) baik dilakukan oleh Bank sendiri atau bekerjasama dengan pendamping yang dibentuk oleh Perguruan Tinggi/LSM/Swasta.

5. Monitoring dan evaluasi

Monitoring dan evaluasi, berfungsi tidak saja untuk mengetahui hasil pelaksanaan program kerja bersama apakah yang dikerjakan sudah sesuai dengan program kerja yang telah ditetapkan bersama, namun juga untuk membuat penyesuaian-penyusuaian jika diperlukan sesuai dengan perubahan kondisi lingkungan.

Saturday, July 24, 2010

Pengertian Laba Bersih dan Konsep Laba

belajar bahasa inggris cepat tanpa grammar pertama kali di Indonesia
Pengertian atau Definisi Laba Bersih
Commite On Terminology (Sofyan Syafri H.,2004) dalam Aliyal Azmi (2007:12) mendefinisikan laba sebagai jumlah yang berasal dari pengurangan harga pokok produksi, biaya lain dan kerugian dari penghasilan atau penghasilan operasi.
Menurut FASB (Financial Accounting Standars Board) statement (Aliyal Azmi, 2007:12) mengartikan laba (rugi) sebagai kelebihan (defisit) penghasilan atas biaya selama satu periode akuntansi.

Menurut Stice, Stice, Skousen (2009:240) laba adalah pengambilan atas investasi kepada pemilik. Hal ini mengukur nilai yang dapat diberikan oleh entitas kepada investor dan entitas masih memiliki kekayaan yang sama dengan posisi awalnya.
Menurut Suwardjono (2008 : 464) laba dimaknai sebagai imbalan atas upaya perusahaan menghasilkan barang dan jasa. Ini berarti laba merupakan kelebihan pendapatan diatas biaya (biaya total yang melekat dalam kegiatan produksi dan penyerahan barang / jasa).
Menurut Soemarso SR (2004 : 227) angka terakhir dalam laporan laba rugi adalah Laba Bersih (net income). Jumlah ini merupakan kenaikan bersih terhadap modal. Sebaliknya, apabila perusahaan menderita rugi, angka terakhir dalam laporan laba rugi adalah rugi bersih (net loss)
Sedangkan menurut Smith Skousen (1989:119) Laba Bersih merupakan perbedaan antara jumlah pendapatan yang diperoleh suatu satuan usahan selama periode tertentu dan jumlah biaya yang dapat diaplikasikan kepada pendapat.

Konsep Laba
Konsep laba menurut Sofyan Syafri H. dalam buku teori akuntansi (2004:263-267) :
  • Laba EkonomiPada awal abad XX Fischer, lindhal dan hick menjelaskan sifat-sifat laba ekonomi mencakup tiga tahap :
  1. Physical Income, Yaitu konsumen barang dan jasa pribadi yang sebenarnya memberikan kesenangan fisik dan pemenuhan kebutuhan. Laba jenis ini tidak dapat dikur.
  2. Real Income, Adalah ungkapan kejadian yang memberikan peningkatan terhadap kesenangan fisik. Ukuran yang dapat digunakan untuk real income ini adalah ‘biaya hidup’ (cost of living). Dengan kata lain kepuasan timbul karena kesenangan fisik yang timbul dari keuntungan yang diukur dengan pembayaran uang yang dilakukan untuk membeli barang dan jasa sebelum dan sesudah dikonsumsi.
  3. Money Income, Merupakan hasil uang yang diterima dan dimaksudkan untuk konsumsi dalam memenuhi kebutuhan hidup. Menurut Ficher real income lebih dekat pada pengertian akuntansi tentang income. Lindahl menganggap konsep laba sebagai interest yaitu merupakan penghargaan yang terus menerus terhadap barang modal sepanjang waktu. Perbedaan antar interest dengan konsumsi yang diharapkan pada periode tertentu dianggap sebagai saving sehingga laba dianggap sebagai konsumsi tambah saving.
  • Laba Akuntansi atau Accounting Income
Accounting Income adalah perbedaan antara realisasi penghasilan yang berasal dari transaksi perubahan pada periode tertentu dikurangi dengan biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan penghasilan itu. SFAC (Statement of Financial Accounting Concepts) 1 (Aliyal Azmi, 2007:14) mengasumsikan bahwa laba akuntansi merupakan ukuran yang baik dari kinerja suatu perusahaan dan bahwa laba akuntansi merupakan ukuran yang baik dari kinerja suatu perusahaan dan bahwa laba akuntansi dapat digunakan untuk meramalkan arus kas masa depan.

Pendapat dalam berbagai pengukuran income dapat diperluas. Income merupakan item laporan keuangan mendasar dan penting yang memiliki berbagai kegunaan dalam berbagai konteks. Secara umum diyakini sebagai dasar untuk perpajakan, penentuan kebijakan pembayaran Deviden, petunjuk investasi dan pembuatan keputusan, elemen prediksi.

Semoga pembahasan tentang pengertian laba dan konsep laba diatas dapat bermanfaat.

Friday, July 23, 2010

Cara Mengisi Bukti Transkasi

belajar bahasa inggris cepat tanpa grammar pertama kali di Indonesia

Ada banyak jenis bukti transkasi yang digunakan dalam melakukan berbagai transkasi. Tidak semua orang sering menggunakan berbagai jenis bukti transkasi, nah sekarang saya akan membahas tentang cara Mengisi Bukti Transaksi yang sering digunakan.

Jika dilihat dari asalnya bukti transaksi dibedakan menjadi :

1. Bukti transaksi internal berupa memo

2. Bukti transaksi eksternal berupa :

  • Faktur (Invoice)
  • Kuitansi (Official receipt)
  • Nota debet (Debit memo)
  • Nota kredit (Credit memo)
  • Cek (Cheque)
  • Bilyet giro
  • Rekening koran

Cara mengisi bukti transaksi yang menjadi bukti transaksi internal dan eksternal adalah sbb :

1. Memo, yang perlu diisi dalam memo antara lain :

  • Nomor memo
  • Tanggal
  • Nama pembuat memo
  • Nama pihak yang dituju dalam memo
  • Subyek memo
  • Isi memo


Blanko



Isi memo

2. Memo, yang perlu diisi dalam memo antara lain :

  • Nama dan alamat penjual
  • Nomor faktur
  • Nama dan alamat pembeli
  • Di dalam format kolom diisi nomor urut, nama/jenis barang, banyaknya barang, harga satuan, jumlah harga ( banyaknya barang dikalikan harga satuan ), jumlah total
  • Tanggal pembayaran
  • Otorisasi penyerahan
  • Otorisasi penerimaan
Blanko faktur

Isian Faktur

3. Kuitansi, yang perlu diisi dalam kuitansi antara lain :


Blanko kuitansi

  • Nomor urut
  • Nama yang menyerahkan pembayaran
  • Jumlah nominal pembayaran dalam huruf
  • Maksud pembayaran
  • Jumlah nominal pembayaran dalam angka
  • Tempat dan tanggal
  • Nama penerima pembayaran

4. Nota debet, yang perlu diisi dalam nota debet antara lain :

  • Nama pihak yang mengeluarkan nota debet ( pihak pembeli )
  • Nama pihak yang dituju
  • Nomor nota debet
  • Nomor item barang
  • Nama/jenis barang
  • Banyaknya barang
  • Harga satuan
  • Jumlah harga ( banyak barang x harga satuan )
  • Total jumlah
  • Tempat dan tanggal
Blanko Nota Debet


Isian Nota Debet

5. Nota kredit, dibuat oleh pihak penjual cara mengisi nota kredit sama dengan nota debet


Blanko Nota Kredit



Isian Nota Kredit

6. Cek, yang perlu diisi dalam cek antara lain :

  • Periksa apakah semua lembaran cek dan potongannya telah diberi nomor
  • Tanggal pengisian
  • Nama penerima
  • Jumlah nominal dalam huruf dan angka
  • Tanda tangan pihak yang melakukan penarikan
  • Pada cek yang salah tulis kalimat “ tidak berlaku/valid”

    Blanko cek


    Isian cek

7. Bilyet giro, yang perlu diisi dalam bilyet giro antara lain :

  • Tanggal
  • Jumlah nominal yang dipindah bukukan dalam huruf dan angka
  • Nama pihak penerima giro bilyet termasuk nama bank penerima
  • Nama pihak yang mengeluarkan bilyet giro

Blanko bilyet


Isian Bilyet Giro

8. Rekening koran , yang perlu diisi dalam rekening koran antara lain :

  • Nomor
  • Tanggal transaksi
  • Sandi
  • Jumlah nominal debet/kredit ( kolom mutasi )
  • Saldo
  • Blanko rek koran
  • Kolom pengesahan petugas bank


Blanko Rekening Koran

Selain bukti transaksi yang telah dikemukakan di atas juga terdapat bukti transaksi lainnya yaitu :

1. Nota kontan dipergunakan sebagai bukti transaksi pembelian atau penjualan secara tunai.

Nama pihak yang mengeluarkan nota kontan

Yang perlu diisi dalam nota kontan antara lain :

  • Nomor nota kontan
  • Tanggal transaksi
  • Di dalam format kolom diisi nomor urut, nama/jenis barang, banyaknya barang, harga satuan, jumlah harga (banyaknya barang dikalikan harga satuan), jumlah total
Blanko

Isian nota kontan

2. Nota permintaan barang merupakan rancangan formulir untuk permintaan dari gudang, yang perlu diisi dalam nota permintaan barang antara lain :

  • Tanggal permintaan dari kepala bagian gudang
  • Nomor urut
  • Nama/jenis barang
  • Merk barang yang diminta
  • Banyaknya barang yang diminta

Keterangan diisi dengan keterangan barang yang diminta, seperti segera, barang habis atau hal lainnya.


Blanko


Isian Nota Permintaan

3. Surat pesanan dibuat untuk menjamin keabsahan pesanan dan untuk keyakinan supplier, dalam membuat surat pesanan bagian pembelian hendaknya melihat daftar harga dan persyaratan dari supplier.

Yang perlu dimuat dalam surat pesanan antara lain :
  • Kepala surat ( nama, alamat, no telepon/fax perusahaan )
  • Nomor surat
  • Pada format kolom, diisi dengan nama barang dan banyaknya barang yang dipesan
  • Cara pembayaran diisi dengan nama bank, nomor rekening, nama pihak yang mewakili pihak penjual
  • Salam penutup diisi dengan tanda tangan dan nama pihak pembeli


















4. Kartu persediaan dibuat untuk mencatat barang yang telah berada di gudang, pencatatannya dapat dilakukan secara manual atau secara komputerisasi. Yang perlu dimuat dalam kartu persediaan antara lain :

Yang perlu dimuat dalam kartu persediaan antara lain :

  • Bulan dan tahun dibuatnya kartu persediaan
  • Kolom label diisi dengan nama, ukuran dan kode produk
  • Kolom masuk diisi dengan banyaknya barang yang masuk sesuai urutan tanggal
  • Kolom keluar diisi dengan banyaknya barang yang keluar sesuai dengan urutan tanggal
  • Kolom saldo diisi dengan rumus Saldo = Saldo + ( masuk – keluar )
  • Kartu persediaan
  • Keterangan diisi dengan hal-hal yang menjadi catatan, seperti jumlah batas pesanan


    Kartu Persediaan


    Semoga beberapa contoh cara pengisian bukti transaksi diatas dapat membantu kamu,

    sumber : http://pustaka.ictsleman.net/bisnis/penjualan/10_mengisi_bukti_transaksi/materi3.html

Jenis Laba

belajar bahasa inggris cepat tanpa grammar pertama kali di Indonesia
Laba adalah salah satu hal yang paling penting dalam sebuah perusahaan, Laba terdiri atas beberapa jenis, yaitu :
  1. Laba kotor, Laba kotor adalah selisih dari hasil penjualan dengan harga pokok penjualan
  2. Laba Operasional, Laba Operasional merupakan hasil dari aktivitas-aktivitas yang termasuk rencana perusahaan kecuali ada perubahan-perubahan besar dala perekonomiannya, dapat diharapkan akan dicapai setiap tahun. Oleh karenanya, angka ini menyatakan kemampuan perusahaan untuk hidup dan mencapai laba yang pantas sebagai jasa pada pemilik modal.
  3. Laba sebelum dikurangi pajak atau EBIT (Earning Before Tax) , Laba sebelum dikurangi pajak merupakan laba operasi ditambah hasil dan biaya diluar operasi biasa. Bagi pihak-pihak tertentu terutama dalam hal pajak, angka ini adalah yang terpenting karena jumlah ini menyatkan laba yang pada akhirnya dicapai perusahaan.
  4. Laba Setelah Pajak Atau Laba Bersih, Laba Bersih adalah laba setelah dikurangi berbagai pajak. Laba dipindahkan kedalam perkiraan laba ditahan. Dari perkiraan laba ditahan ini akan diambil sejumlah tertentu untuk dibagikan sebagai Deviden kepada para pemegang saham.
sedangkan Pengertian Laba Menurut Suwardjono (2008 : 464) laba dimaknai sebagai imbalan atas upaya perusahaan menghasilkan barang dan jasa. Ini berarti laba merupakan kelebihan pendapatan diatas biaya (biaya total yang melekat kegiatan produksi dan penyerahan barang / jasa)

Wednesday, July 21, 2010

Laporan Keuangan-Arus Kas

belajar bahasa inggris cepat tanpa grammar pertama kali di Indonesia
Statement of Financial Accounting Concept (SFAC) No. 1 yang dikeluarkan oleh Financial Accounting Standard Board (FASB, 1978) mengemukakan tiga tujuan laporan keuangan, yaitu :
  1. Pelaporan keuangan harus menghasilkan informasi yang dapat digunakan oleh para investor, kreditor dan pengguna lain dalam membuat keputusan investasi, kredit dan keputusan- keputusan serupa yang rasional.
  2. Menghasilkan informasi yang dapat digunakan untuk menilai arus kas di masa yang akan datang.
  3. Menghasilkan informasi tentang sumber daya, klaim terhadap sumber daya tersebut beserta perubahannya.
Awalnya Pelaporan keuangan hanya terdiri dari Neraca dan laporan Laba Rugi, dan laporan perubahan posisi keuangan bersifat tidak wajib. Pada tahun 1987 Financial Accounting Standard Board (FASB) mewajibkan pelaporan arus kas sebagai pengganti laporan perubahan posisi keuangan melalui Statement of Financial Accounting Standarts (SFAC) No. 95. Dan Di Indonesia pelaporan arus kas diwajibkan pada tahun 1995 dengan dikeluarkannya Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 2 par 2. Sedangkan PSAK No. 2 par 1 menyatakan bahwa perusahaan harus menyusun laporan arus kas dan harus menyajikan laporan tersebut sebagai bagian yang tak terpisahkan (integral) dari laporan keuangan untuk setiap periode penyajian laporan keuangan.

Dalam mempelajari laporan keuangan penekanannya adalah pada Laba Bersih yang tercantum dalam laporan laba rugi. Sedangkan pada keuangan (finance), kita memfokuskan pada arus kas bersih. Nilai aset atau nilai perusahaan secara keseluruhan ditentukan oleh arus kas yang dihasilkannya. Laba Bersih perusahaan itu penting, akan tetapi arus kas lebih penting karena Deviden harus dibayarkan dalam bentuk kas dan kas diperlukan untuk membeli aset yang diperlukan untuk melanjutkan operasi. Walaupun demikian, arus kas dan Laba Bersih memiliki hubungan yang cukup erat. Arus kas bersih merupakan penjumlahan dari Laba Bersih perusahaan, pendapatan nonkas dan beban nonkas. Sehingga makin besar Laba Bersih yang dihasilkan perusahaan, semakin besar pula arus kas perusahaan.

Saturday, July 17, 2010

Pengertian dan Jenis Deviden dan

belajar bahasa inggris cepat tanpa grammar pertama kali di Indonesia
Pengertian Deviden
Stice at al (2004:902) menyatakan bahwa “Deviden adalah pembagian kepada pemegang saham dari suatu perusahaan secara proporsional sesuai dengan jumlah saham yang dipegang oleh masing-masing pemilik”.
Sedangkan menurut Skousen et al (2001:757) yang dikutip oleh Manurung & Siregar (2008:3) ”Deviden adalah pendistribusian laba secara proporsional kepada para pemegang saham sesuai dengan jumlah saham yang dimilikinya”.

Jenis Deviden
Ada beberapa jenis Deviden (Siswi Nirwanasari, 2007:22) yaitu :
  1. Deviden kas, Deviden yang paling umum dibagikan perusahaan adalah bentuk kas. Yang perlu diperhatikan oleh pimpinan perusahaan sebelum membuat pengumuman adanya Deviden kas adalah apakah jumlah kas yang ada mencukupi untuk pembagian Deviden tersebut.
  2. Deviden aktiva selain kas (Property Devidend), Kadang-kadang Deviden dibagikan dalam bentuk aktiva selain kas, Deviden dalam bentuk ini disebut property Deviden. Aktiva yang dibagikan bisa berbentuk surat-surat berharga perusahaan lain yang dimiliki oleh perusahaan, barang dagang atau aktiva-aktiva lain.
  3. Deviden hutang (scrip Devidend), Deviden hutang timbul apabila laba tidak dibagi saldonya, mencukupi untuk pembagian Deviden, tetapi saldo kasnya tidak cukup sehingga pimpinan perusahaan akan mengeluarkan scrip Devidend yaitu janji tertulis untuk membayar jumlah tertentu di waktu yang akan datang. Scrip Devidend ini mungkin berbunga mungkin tidak.
  4. Deviden likuidasi, Deviden likuidasi adalah Deviden yang sebagian merupakan pengembalian modal. Apabila perusahaan membagi Deviden likuidasi, maka para pemegang saham harus diberitahu mengenai berapa jumlah pembagian laba, dan berapa yang merupakan pengembalian modal sehingga para pemegang saham bisa mengurangi rekening investasinya.
  5. Deviden saham, Deviden saham adalah pembagian tambahan saham tanpa dipungut pembayaran kepada pemegang saham, sebanding dengan saham-saham yang dimilikinya. Deviden saham dapat berupa saham yang jenisnya sama maupun yang jenisnya berbeda.

Monday, June 21, 2010

Uji Validitas dan Reliabilitas

belajar bahasa inggris cepat tanpa grammar pertama kali di Indonesia

Uji Validitas dan Reliabilitas sering digunakan dalam sebuah penelitian, karena dalam setiap penelitian selalu terjadi proses pengumpulan data dan dalam proses pengumpulan data tersebut akan menggunakan satu atau beberapa metode. Jenis metode yang dipilih dan digunakan dalam pengumpulan data, tentunya harus sesuai dengan sifat dan karakteristik penelitian yang dilakukan. Instrumen adalah alat yang digunakan untuk mengumpulkan data-data tersebut.

Instrumen dapat dianalogikan sebagai ujung tombak untuk membidik data dalam sebuah penelitian. Melalui instrumenlah akhirnya terkumpul data yang nantinya diolah menjadi sebuah informasi hasil penelitian. Untuk itulah, perlu kiranya memilih dan merumuskan instrumen secara tepat. Hal ini sejalan dengan ungkapan “garbage tool garbage result”. Jadi, pada dasarnya salah satu hal yang mempengaruhi hasil penelitian terletak pada instrumennya. Semakin baik konstruksi sebuah instrumen, maka semakin baik pula data yang berhasil dijaring, begitu pula sebaliknya.

PEMBAHASAN

Sebelum diuraikan mengenai seluk beluk instrumen, maka akan diinformasikan terlebih dahulu judul buku yang dibahas dalam tugas ini, antara lain : Manajemen Penelitian (Suharsimi Arikunto), Menyusun dan Mengevaluasi Laporan Penelitian (Soetarlinah Sukadji), Reliabilitas dan Validitas (Saifuddin Azwar), dan Psychological Testing (Anne Anastasi dan Susana Urbina).

A. Manajemen Penelitian (Suharsimi Arikunto)

1. Validitas Instrumen (halaman 219)

Validitas adalah keadaan yang menggambarkan tingkat instrumen bersangkutan yang mampu mengukur apa yang akan diukur. Ada dua jenis validitas, yaitu :

a. Validitas Logis

Apabila instrumen tersebut secara analisis akal sudah sesuai dengan isi dan aspek yang diungkapkan. Instrumen yang sudah sesuai dengan isi dikatakan sudah memiliki validitas isi, sedangkan instrumen yang sudah sesuai dengan aspek yang diukur dikatakan sudah memiliki validitas konstruksi.

b. Validitas Empiris

2. Reliabilitas Instrumen (halaman 220 – 222)

Ada tiga teknik untuk menguji reliabilitas instrumen, yaitu :

a. Teknik Paralel (Paralel Form Atau Alternate Form)

Disebut juga teknik „double test double trial“. Sejak awal peneliti harus sudah menyusun dua perangkat instrumen yang paralel (ekuivalen), yaitu dua buah instrumen yang disusun berdasarkan satu kisi-kisi. Setiap butir soal dari instrumen yang satu selalu harus dapat dicarikan pasangannya dari instrumen kedua. Kedua instrumen tersebut diujicobakan semua. Sesudah kedua uji coba terlaksana, maka hasil kedua instrumen tersebut dihitung korelasinya dengan menggunakan rumus product moment (korelasi Pearson).

b. Teknik Ulang (test re-test)

Disebut juga teknik “single test double trial”. Menggunakan sebuah instrumen, namun diteskan dua kali. Hasil atau skor pertama dan kedua kemudian dikorelasikan untuk mengetahui besarnya indeks reliabilitas. Teknik perhitungan yang digunakan sama dengan yang digunakan pada teknik pertama yaitu rumus korelasi Pearson.

c. Teknik Belah Dua (split halve method)

1) Disebut juga teknik “single test single trial”. Peneliti boleh hanya memiliki seperangkat instrumen saja dan hanya diujicobakan satu kali, kemudian hasilnya dianalisis, yaitu dengan cara membelah seluruh instrumen menjadi dua sama besar. Cara yang diambil untuk membelah soal bisa dengan membelah atas dasar nomer ganjil-genap, atas dasar nomer awal-akhir, dan dengan cara undian.

B. Menyusun dan Mengevaluasi Laporan Penelitian (Soetarlinah Sukadji)

1. Validitas (halaman 30 – 31)

Validitas adalah derajat yang menyatakan suatu tes mengukur apa yang seharusnya diukur. Validitas suatu tes tidak begitu saja melekat pada tes itu sendiri, tetapi tergantung penggunaan dan subyeknya. Validitas dipecah lagi menjadi berbagai jenis yang akan dijabarkan berikut ini :

a. Validitas Isi

Adalah seberapa besar derajat tes mengukur representasi isi yang dikehendaki untuk diukur. Validitas aitem berkaitan dengan apakah aitem mewakili pengukuran dalam area isi sasaran yang diukur, dan validitas sampling adalah seberapa baik sampel isi tes mewakili keseluruhan isi sasaran yang diukur. Biasanya dinilai dengan menggunakan pertimbangan pakar.

b. Validitas Konstruk/Teoretik

Adalah seberapa besar derajat tes mengukur konstruk hipotesis yang dikehendaki untuk diukur. Konstruk adalah perangai yang tidak dapat diamati, yang menjelaskan perilaku. Menguji validitas konstruk mencakup uji hipotesis yang dideduksi dari suatu teori yang mengajukan konstruk tersebut.

c. Validitas Konkruen

Validitas ini menunjukkan seberapa besar derajat skor tes berkorelasi dengan skor yang diperoleh dari tes lain yang sudah mantap, bila disajikan pada saat yang sama, atau dibandingkan dengan kriteria lain yang valid yang diperoleh pada saat yang sama.

d. Validitas Prediktif

Adalah seberapa besar derajat tes berhasil memprediksi kesuksesan seseorang pada situasi yang akan datang. Validitas prediktif ditentukan dengan mengungkap hubungan antara skor tes dengan hasil tes atau ukuran lain kesuksesan dalam satu situasi sasaran.

2. Reliabilitas (halaman 31 – 32)

Reliabilitas suatu tes adalah seberapa besar derajat tes mengukur secara konsisten sasaran yang diukur. Reliabilitas dinyatakan dalam bentuk angka, biasanya sebagai koefisien. Koefisien tinggi berarti reliabilitas tinggi.

Reliabilitas dapat dibagi lagi menjadi :

a. Reliabilitas Tes Re-Tes

Adalah seberapa besar derajat skor tes konsisten dari waktu ke waktu. Reliabilitas diukur dengan menentukan hubungan antara skor hasil penyajian tes yang sama kepada kelompok yang sama, pada waktu yang berbeda.

b. Reliabiltas Belah-Dua

Reliabiltas ini diukur dengan menentukan hubungan antara skor dua paruh yang ekuivalen suatu tes, ang disajikan kepada seluruh kelompok pada suatu saat. Karena reliabilitas belah dua mewakili reliabilitas hanya separuh tes yang sebenarnya, rumus Spearman-Brown dapat digunakan untuk mengoreksi koefisien yang didapat.

c. Reliabilitas Rasional Ekuivalen

Reliabilitas ini tidak ditentukan menggunakan korelasi tetapi menggunakan estimasi konsistensi internal. Reliabilitas ini diukur menggunakan Kuder-Richardson, biasanya Formula-20 (KR-20) atau Formula-21 (KR-21). Kedua rumus ini hanya dapat dipakai untuk tes yang aitem-aitemnya diskor dikotomi, yaitu benar atau salah, 0 atau 1.

d. Reliabilitas Penyekor/Penilai

Adalah reliabilitas dua (atau lebih) penyekor independen. Reliabilitas ini biasa ditentukan menggunakan teknik korelasi, tetapi juga dapat hanya dinyatakan dalam persentase kesepakatan.

C. Reliabilitas dan Validitas (Saifuddin Azwar)

1. Validitas (halaman 45 - 53)

a. Validitas Isi

Merupakan validitas yang diestimasi lewat pengujian terhadap isi tes dengan analisis rasional atau lewat professional judgement. Pertanyaan yang dicari jawabannya dalam validasi ini adalah “sejauhmana aitem-aitem dalam tes mencakup keseluruhan kawasan isi (dengan catatan tidak keluar dari batasan tujuan ukur) objek yang hendak diukur” atau “sejauhmana isi tes mencerminkan ciri atribut yang hendak diukur”.

Selanjutnya validitas isi terbagi menjadi 2 (dua), yaitu :

1) Validitas muka (face validity)

Tipe validitas yang paling rendah signifikansinya karena hanya didasarkan pada penilaian terhadap format penampilan (appearance) tes. Apabila penampilan tes telah meyakinkan dan memberikan kesan mampu mengungkap apa yang hendak diukur maka dapat dikatakan bahwa validitas muka telah terpenuhi.

2) Validitas logik (logical/sampling validity)

Validitas ini menunjuk pada sejauh mana isi tes merupakan representasi dari ciri-ciri atribut yang hendak diukur. Untuk memperoleh validitas logik yang tinggi, suatu tes harus dirancang sedemikian rupa sehingga benar-benar berisi hanya aitem yang relevan dan perlu menjadi bagian tes secara keseluruhan. Penggunaan blueprint sangat membantu tercapainya validitas logik.

b. Validitas Konstrak

Adalah tipe validitas yang menunjukkan sejauh mana tes mengungkap suatu trait atau konstrak teoritik yang hendak diukurnya (Allen & Yen, 1979). Pengujian validitas konstrak merupakan proses yang terus berlanjut sejalan dengan perkembangan konsep mengenai trait yang diukur. Hasil estimasi validitas konstrak tidak dinyatakan dalam bentuk suatu koefisien validitas.

Dukungan terhadap adanya validitas konstrak, menurut Magnusson, dapat dicapai melalui beberapa cara antara lain :

1) Studi mengenai perbedaan diantara kelompok-kelompok yang menurut teori harus berbeda

Apabila teori mengatakan bahwa antara suatu kelompok dengan kelompok lainnya harus memiliki skor yang berbeda.

2) Studi mengenai pengaruh perubahan yang terjadi dalam diri individu dan lingkungannya terhadap hasil tes

Apabila teori mengatakan bahwa hasil tes dipengaruhi oleh kondisi subjek dikarenakan faktor kematangan.

3) Studi mengenai korelasi diantara berbagai variabel yang menurut teori mengukur aspek yang sama

Studi ini dapat diperluas dengan mengikutsertakan korelasi antara berbagai skor tes yang mengukur aspek yang berbeda.

4) Studi mengenai korelasi antaraitem atau antar belahan tes

Interkorelasi yang tinggi antarbelahan dari suatu tes dapat dianggap sebagai bukti bahwa tes mengukur satu variabel satuan (unitary variable).

c. Validitas Berdasar Kriteria

Menghendaki tersedianya kriteria eksternal yang dapat dijadikan dasar pengujian skor tes. Suatu kriteria adalah variabel perilaku yang akan diprediksikan oleh skor tes atau berupa suatu ukuran lain yang relevan. Untuk melihat tingginya validitas berdasar kriteria dilakukan komputasi korelasi antara skor tes dengan skor kriteria. Koefisien ini merupakan koefisien validitas bagi tes yang bersangkutan, yaitu rxy, dimana X melambangkan skor tes dan Y melambangkan skor kriteria.

Prosedur validasi berdasar kriteria menghasilkan dua macam validitas, yaitu :

1) Validitas prediktif, sangat penting artinya bila tes dimaksudkan untuk berfungsi sebagai prediktor bagi performansi diwaktu yang akan datang.

2) Validitas konkruen, apabila skor tes dan skor kriterianya dapat diperoleh dalam waktu yang sama, maka korelasi antara kedua skor termaksud merupakan koefisien validitas konkruen.

2. Reliabilitas (halaman 36 – 43)

a. Pendekatan Tes Ulang (test-retest)

Dilakukan dengan menyajikan tes dua kali pada satu kelompok subjek dengan tenggang waktu diantara kedua penyajian tersebut. Asumsi yang menjadi dasar dalam cara ini adalah bahwa suatu tes yang reliabel tentu akan menghasilkan skor~tampak yang relatif sama apabila dikenakan dua kali pada waktu yang berbeda.

b. Pendekatan Bentuk Paralel

Tes yang akan diestimasi reliabilitasnya harus ada paralelnya, yaitu tes lain yang sama tujuan ukurnya dan setara isi aitemnya baik secara kualitas maupun kuantitasnya. Dengan bahasa sederhana dapat dikatakan bahwa kita harus punya dua tes yang kembar. Sebenarnya, dua tes yang paralel hanya ada secara teoritik, tidak benar-benar paralel secara empirik.

Untuk membuat dua tes menjadi paralel, penyusunannya haruslah didasarkan pada satu spesifikasi yang sama. Secara empirik, kemudian dua tes yang paralel itu haruslah menghasilkan mean skor dan varians yang setara dan korelasi yang juga tidak berbeda dengan suatu variabel ketiga. Hanya itulah bukti terpenuhinya sifat paralel antara dua tes yang dapat diperoleh dalam penyusunan tes. Untuk membuktikan bahwa kedua tes menghasilkan dua skor murni yang sama bagi setiap subjek serta memberikan dua varians eror yang sama sebagaimana dituntut oleh teori skor murni klasikal, tidaklah dapat dilakukan.

c. Pendekatan Konsistensi Internal

Dilakukan dengan menggunakan satu bentuk tes yang dikenakan hanya sekali saja pada sekelompok subjek (single trial administration). Dengan menyajikan satu tes hanya satu kali, maka problem yang mungkin timbul pada dua pendekatan reliabilitas terdahulu dapat dihindari.

Pendekatan reliabilitas konsistensi internal bertujuan melihat konsistensi antaraitem atau antarbagian dalam tes itu sendiri. Untuk itu, setelah skor setiap aitem diperoleh dari sekelompok subjek, tes dibagi menjadi beberapa belahan.

Untuk melihat kecocokan atau konkordansi diantara belahan-belahan tes dilakukan komputasi statistik melalui teknik-teknik korelasi, analisis varians antarbelahan, analisis varians perbedaan skor, dan lain-lainnya.

D. Psychological Testing (Anne Anastasi dan Susana Urbina)

1. Validitas (halaman 86 – 101)

a. Prosedur Deskripsi-Isi

Pada dasarnya melibatkan pengujian sistematik atas isi tes untuk menetukan apakah tes itu mencakup sampel representatif dari domain perilaku yang harus diukur.

Validitas isi janganlah dikacaukan dengan validitas nominal (face validity). Validitas nominal bukanlah validitas dalam pengertian teknis; validitas ini merujuk pada apa yang nampaknya diukur. Validitas nominal berhubungan dengan apakah tes itu “kelihatan valid” bagi peserta tes yang mengikutinya.

Validitas nominal kerap kali dapat diperbaiki dengan merumuskan kembali butir-butir soal tes dalam istilah-istilah yang nampak relevan dan masuk akal dalam lingkungan tertentu dimana tes-tes itu akan digunakan.

b. Prosedur Prediksi Kriteria

Prosedur validasi prediksi kriteria menunjukkan efektivitas sebuah tes untuk memprediksi kinerja seseorang dalam aktivitas-aktivitas tertentu. Ukuran kriteria yang menjadi tolak ukur validasi skor-skor tes divalidasikan bisa diperoleh pada saat yang hampir sama dengan pemberi skor tes atau setelah suatu interval ditetapkan.

Validitas prediksi kriteria kerapkali digunakan dalam studi-studi validasi lokal, yang padanya efektivitas sebuah tes untuk program tertentu harus dinilai. Validitas prediksi kriteria bisa dicirikan sebagai validitas praktis sebuah tes untuk maksud tertentu.

c. Prosedur Identifikasi Konstruk

Validitas konstruk suatu tes adalah lingkup sejauhmana tes bisa dikatakan mengukur suatu konstruk atau sifat yang teoritis. Tiap konstruk dikembangkan untuk menjelaskan dan mengorganisir konsistensi-konsistensi respons yang teramati. Konstruk-konstruk tersebut berasal dari hubungan-hubungan tetap antara ukuran-ukuran perilaku. Validasi konstruk membutuhkan akumulasi informasi secara bertahap dari berbagai sumber.

2. Reliabilitas (halaman 63 – 74)

Reliabilitas merujuk pada konsistensi skor yang dicapai oleh orang yang sama ketika mereka diuji-ulang dengan tes yang sama pada kesempatan yang berbeda, atau dengan seperangkat butir-butir ekuivalen (equivalent items) yang berbeda, atau di bawah kondisi pengujian yang berbeda.

a. Reliabilitas Tes Retes

Metode paling jelas untuk menemukan reliabilitas skor tes adalah dengan mengulang tes yang sama pada kesempatan kedua. Reliabilitas tes ulang menunjukkan sejauh mana skor pada tes dapat digeneralisasikan untuk berbagai kesempatan yang berbeda; makin tinggi reliabilitasnya, makin rentanlah skor terhadap perubahan sehari-hari yang acak dalam kondisi peserta tes atau lingkungan testing.

b. Reliabilitas Bentuk Alternatif

Satu cara untuk menghindari kesulitan yang ditemukan dalam reliabilitas tes dan tes ulang adalah melalui penggunaan bentuk-bentuk tes lainnya. Dengan demikian, orang yang sama bisa ditest dengan satu bentuk pada kesempatan pertama dan dengan bentuk lainnya yang ekuivalen pada kesempatan kedua. Korelasi antara skor-skor yang didapatkan pada dua bentuk itu merupakan koefisien reliabilitas tes. Perlu dicatat bahwa koefisien reliabilitas semacam itu adalah ukuran stabilitas temporal dan konsistensi respons terhadap berbagai butir soal contoh (atau bentuk-bentuk tes).

c. Reliabilitas Belah Separuh (Split-Half Reliability)

Dengan cara ini, dua skor didapatkan untuk setiap orang dengan membagi tes menjadi paruhan-paruhan yang ekuivalen. Jenis reliabilitas ini kadangkala disebut koefisien konsistensi internal, karena hanya dibutuhkan penyelenggaraan tunggal atas satu bentuk tes saja.

Untuk mendapatkan reliabilitas belah-separuh, masalah pertamanya adalah bagaimana membagi tes dalam rangka mendapatkan paruhan-paruhan yang paling ekuivalen.

Efek yang akan dihasilkan pada koefisiennya dengan memperpanjang atau memperpendek sebuah tes, dapat diperkirakan dengan rumus Spearman-Brown, seperti berikut :

rnn = nrtt

1 + (n – 1)rtt

rnn : koefisien yang diperkirakan

rtt : koefisien yang diperoleh

n : jumlah waktu tes diperpanjang/diperpendek

Ketika diterapkan pada reliabilitas belah separuh, rumus ini selalu melibatkan penggandaan panjang tes. Dalam kondisi ini, rumus itu dapat disederhanakan sebagai berikut :

rtt = 2rhh

1 + rhh


Untuk rhh adalah korelasi dari tes-tes paruhan

Metode alternatif untuk mendapatkan reliabilitas belah separuh dikembangkan oleh Rulon (1939). Hanya dibutuhkan varians dari perbedaan antara skor-skor tiap orang pada dua tes-tes separuh (SDx2) dan varians skor total (SDd2) dua nilai ini disubstitusikan dalm rumus berikut, yang menghasilkan reliabilitas seluruh tes secara langsung :

rtt = SDx2

SDd2

1 –

Menarik untuk memperhatikan hubungan rumus ini

dengan varians kesalahan. Perbedaan apapun antara

skor-skor seseorang pada dua tes paruhan

menampilkan varians kesalahan atau varians yang tidak relevan. Varians-varians perbedaan-perbedaan ini, dibagi dengan varians skor-skor total, memberikan proporsi varians kesalahan dalam skor-skor itu. Ketika varians skor ini dikurangkan dari 1,00, hasilnya adalah proporsi varians “benar” untuk penggunaan tes tertentu, yang sama dengan koefisien reliabilitas.

d. Reliabilitas Kuder-Richardson dan Koefisien Alpha

Metode ini didasarkan pada konsistensi respons terhadap semua butir soal dalam tes. Konsistensi antar soal ini dipengaruhi oleh dua sumber varians kesalahan : (1) pencuplikan isi (sebagaimana dalam bentuk alternatif dan reliabilitas belah separuh) ; dan (2) heterogenitas dari domain yang disampelkan. Semakin homogen domainnya, semakin tinggilah konsistensi antar soal.

Dari berbagai rumus yang diturunkan dalam artikel aslinya, rumus yang paling luas diterapkan, umumnya dikenal sebagai “rumus 20 Kuder-Richardson”, adalah sebagai berikut :

rtt = n SD t2 Σpq

n – 1 SD t2

rtt : koefisien reliabilitas seluruh tes

n : jumlah soal dalam tes

SDt : simpangan baku skor-skor total tes

p : proporsi orang-orang yang lulus

q : proporsi orang-orang yang tidak lulus

Σpq : hasil tabulasi antara p dan q

Rumus Kuder-Richardson dapat diterapkan pada tes-tes yang soal-soalnya diskor benar atau salah, atau tergantung pada suatu sistem all or none (semua atau tidak sama sekali) lainnya.

e. Reliabilitas Pemberi Skor

Reliabilitas pemberi skor dapat ditentukan dengan memiliki sampel lembaran tes yang diskor secara terpisah oleh dua penguji. Dengan demikian dua skor yang didapatkan oleh masing-masing peserta tes ini kemudian dikorelasikan dengan cara biasa, dan koefisien korelasi yang dihasilkannya adalah ukuran reliabilitas pemberi skor. Jenis reliabilitas ini umumnya dihitung ketika instrumen-instrumen yang diskor secara subjektif digunakan dalam riset.

ANALISIS BUKU

Sebuah instrumen yang valid belum tentu reliabel, tetapi instrumen yang reliabel sudah tentu valid. Pernyataan ini menandakan bahwa sebuah validitas dan reliabilitas adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan dalam pengkonstruksian sebuah instrumen, jika ingin dikatakan baik.

Hal tersebut secara implisit tergambar pada benang merah yang menjalin antara keempat buku yang telah diuraikan sebelumnya.

Pada buku karya Suharsimi Arikunto, validitas tidak dibahas secara mendalam bila dibandingkan dengan pembahasan reliabilitasnya, karena yang dibahas hanya tentang validitas logis tanpa dibarengi dengan validitas empiris. Namun, pada reliabilitasnya sudah dibahas mengenai tiga jenis reliabilitas, yaitu validitas paralel, ulang dan belah dua.

Sedikit berbeda dengan yang telah diuraikan Arikunto, pada buku karya Soetarlinah Sukardji, pembahasan mengenai validitas dan reliabilitasnya sudah jauh lebih luas. Karena pada bukunya validitas yang dibahas tidak hanya sekedar validitas logis saja, tetapi juga dibahas mengenai validitas isi, konstruk, konkruen, dan prediktif. Sedangkan pada pembahasan reliabilitasnya sama dengan pada pembahasan Arikunto, tetapi pada Sukardji ditambah dengan adanya reliabilitas rasional ekuivalen dan penyekor/penilai.

Pada buku karya Saifuddin Azwar, pembahasannya lebih mendalam sekali, karena bukunya memang secara khusus membahas tentang validitas dan reliabilitas. Namun, pada dasarnya yang dibahas juga sama, hanya berbeda dari segi nama dan pengelompokkannya saja.

Tidak jauh berbeda dengan buku Azwar, buku karya Anastasi dan Urbina juga membahas secara luas dan mendalam mengenai validitas dan reliabilitas. Karena buku ini memang berisi tentang bagaimana membuat instrumen tes khususnya untuk tes psikologi. Apalagi didalamnya sudah terdapat rumus cara mencari reliabilitas secara komputasi/statistik.

Setelah melihat dan mengulas dari keempat buku yang sudah dijabarkan, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa buku terakhir yaitu Psychological Testing karya Anne Anastasi dan Susana Urbina dapat dikatakan telah merangkum mengenai reliabilitas dari ketiga buku yang telah dijabarkan sebelumnya. Tetapi untuk pembahasan mengenai validitas Saifuddin Azwar lebih baik dan mendalam dibanding dengan Anastasi dan Urbina.

Jadi perumusan validitas dan reliabilitas yang baik dari kedua buku tersebut adalah sebagai berikut :

1. Validitas secara sederhana dapat dikatakan sebagai sejauh mana sebuah instrumen dapat mengukur hal yang seharusnya diukur. Validitaspun dapat dipilah kembali menjadi beberapa jenis, seperti di bawah ini :

a. Validitas Isi, selanjutnya validitas isi terbagi menjadi 2 (dua), yaitu :

1) Validitas muka (face validity)

2) Validitas logik (logical/sampling validity)

b. Validitas Konstrak

Adalah tipe validitas yang menunjukkan sejauh mana tes mengungkap suatu trait atau konstrak teoritik yang hendak diukurnya (Allen & Yen, 1979). Menurut Magnusson, dapat dicapai melalui beberapa cara antara lain :

1) Studi mengenai perbedaan diantara kelompok-kelompok yang menurut teori harus berbeda

2) Studi mengenai pengaruh perubahan yang terjadi dalam diri individu dan lingkungannya terhadap hasil tes

3) Studi mengenai korelasi diantara berbagai variabel yang menurut teori mengukur aspek yang sama

4) Studi mengenai korelasi antaraitem atau antar belahan tes

c. Validitas Berdasar Kriteria

Menghendaki tersedianya kriteria eksternal yang dapat dijadikan dasar pengujian skor tes. Suatu kriteria adalah variabel perilaku yang akan diprediksikan oleh skor tes atau berupa suatu ukuran lain yang relevan.

Prosedur validasi berdasar kriteria menghasilkan dua macam validitas, yaitu validitas prediktif dan konkruen.

2. Reliabilitas

Reliabilitas merujuk pada konsistensi skor yang dicapai oleh orang yang sama ketika mereka diuji-ulang dengan tes yang sama pada kesempatan yang berbeda, atau dengan seperangkat butir-butir ekuivalen (equivalent items) yang berbeda, atau di bawah kondisi pengujian yang berbeda. Yang terdiri dari :

a. Reliabilitas Tes Retes

b. Reliabilitas Bentuk Alternatif

c. Reliabilitas Belah Separuh (Split-Half Reliability)

d. Reliabilitas Kuder-Richardson dan Koefisien Alpha

e. Reliabilitas Pemberi Skor

KESIMPULAN

Kesimpulan yang dapat ditarik dari penjabaran di atas adalah sebagai berikut :

1. Validitas adalah sebuah proses yang harus dilalui instrumen agar dapat diketahui apakah instrumen yang sudah dikonstruksi telah mengukur aitem yang seharusnya diukur. Cara mengetahuinya melalui validitas isi (muka dan logik), konstrak, dan kriteria (prediktif dan konkruen).

2. Reliabilitas adalah sebuah proses yang harus dilalui instrumen untuk mengetahui keandalan atau keajegan dari sebuah instrumen. Dengan kata lain, instrumen yang baik akan menarik jawaban/data yang sama walaupun diberikan di waktu dan kondisi yang berbeda. Cara mengetahuinya melalui reliabilitas tes retes, bentuk alternatif, belah dua, Kuder-Richardson dan koefisien alpha, dan pemberi skor.

3. Instrumen adalah titik tolak atau salah satu hal utama yang mempengaruhi hasil akhir sebuah penelitian. Oleh karena itu, penggunaan atau pengkonstruksian yang salah akan berimbas pada penarikan data yang salah. Hal tersebut biasa dikenal dengan “garbage tool garbage result”.

4. Instrumen yang sudah teruji secara validitas belum tentu teruji secara reliabilitas. Namun, bila instrumen tersebut sudah teruji secara reliabilitas, maka secara tidak langsung instrumen tersebut sudah pasti teruji secara validitas. Secara sederhana dapat dirumuskan valid belum tentu reliabel, tetapi reliabel sudah pasti valid.

DAFTAR PUSTAKA

Anastasi, A & Susana Urbina. Psychological Testing. New Jersey : Prentice-Hall Inc, 1997.

Arikunto, Suharsimi. Manajemen Penelitian. Jakarta : Rineka Cipta, 1995.

Azwar, Saifuddin. Reliabilitas dan Validitas. Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2003.

Sukadji, Soetarlinah. Menyusun dan Mengevaluasi Laporan Penelitian, Jakarta : UI-Press, 2000.
sumber : http://lussysf.multiply.com/journal/item/137
Related Posts with Thumbnails