Demo Site

belajar bahasa inggris cepat tanpa grammar pertama kali di Indonesia

Wednesday, August 5, 2009

Sejarah, Investasi Gillette di Indonesia dan Alasan Relokasi ke China

belajar bahasa inggris cepat tanpa grammar pertama kali di Indonesia
Sejarah
Setiap orang pasti ingin terlihat rapih, tetapi pada kebanyakan pria, kerapihan itu akan terganggu oleh adanya bulu2 yang tumbuh di wajah. Berapa banyak cambang atau jenggot pada rata-rata wajah pria? Tiga puluh ribu, menurut hitungan Gillette. Berapa cepat cambang atau jenggot pria itu tumbuh? Satu hari tumbuh lima belas per seribu inci, atau lima setengah inci per tahun. Menurut Gillette Co., jenggot kering kira-kira hampir sama dengan kabel tembaga dengan ketebalan yang sama.

Gillette adalah perusahaan yang terobsesi dengan pencukuran. Gillette begitu mendominasi alat cukur seluruh dunia, sehingga nama Gillette berarti sebuah pisau cukur di beberapa negara. Gillette menjadi pemimpin pasar di Eropa dengan 70 persen pangsa pasar dan di Amerika Latin dengan 80 persen pangsa pasar. Tentu saja, untuk sebuah mata pisau dijual di dalam negeri dan lima buah dijual ke luar negeri dijual, merupakan gambaran adanya perkembangan untuk melakukan usaha patungan dalam rangka mengembangkan penjualan ke Cina, Rusia, dan India.
Untuk memahami Gillette pada tahun 1992, maka penting sekali memahami Gillette pada tahun 1962. Pangsa pasar Gillette Amerika baru saja mencapai titik paling tinggi yang pernah dicapai—72 persen. Juga, perusahaan telah berkuasa di luar negeri sejak tahun 1905, hanya satu dekade setelah King C. Gillette menciptakan pisau cukur pertama yang aman.

Keterkenalan Gillette di Indonesia juga telah terbukti berupa penggunaan kata Gillette – yang diucapkan oleh lidah orang Indonesia sebagai “silet”– sudah menjadi kata baru sebagai salah satu nama alat pemotong. Untuk ini Lembaga Pembinaan Bahasa Indonesia sudah memasukkan kata “silet” ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dengan arti pisau kecil dan tipis untuk mencukur bulu.

Gillette Hengkang dai Indonesia karena Tak Efisien
PT Gillette Indonesia merelokasi pabriknya ke Cina menjadi ironi karena dilakukan ketika kondisi perekonomian Indonesia mulai membaik. Diperkirakan produsen silet Goal itu hengkang karena alasan internal, bukan eksternal. Namun, yang jelas kepergian perusahaan berstatus penanaman modal asing (PMA) itu memukul pemerintah yang saat ini giat menarik investor.
Menurut Ketua DPP Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo)- Djimanto hengkangnya Gillette sebenarnya tidak terlalu signifikan. Apalagi mereka termasuk perusahaan kecil.
Kepergian Gillette karena alasannya soal internal, yakni secara ekonomi tidak efisien akibat pasar yang dikembangkan sudah maksimal. Selain itu, perusahaan asal AS tersebut tergolong kecil investasinya di Indonesia dan pekerjanya sudah dicarikan solusinya.

Rencana PT Gillette hengkang ke Cina Juli nanti menambah panjang daftar perusahaan PMA yang menutup pabriknya di Indonesia. Pada akhir 2002 lalu PT Sony Electronic Indonesia serta produsen sepatu dan pakaian G-III Apparel Group Ltd juga menutup pabriknya. PT Doson Indonesia produsen sepatu merek Nike juga melakukan hal serupa.
Selain itu, PT Galaxi Batam yang bergerak di bidang usaha elektronik, PT Haman Idaman Tas (kerajinan tas), PT Tri Rempos (garment), PT Dayak Eco carpenty (rumah kayu knock down), PT Indolim Utama (garment), PT International Finance Corporation (keuangan), PT Kencana Indah Garmindo (garment), PT Budidaya Mutiara (mutiara), PT Jinin Indonesia (garment), dan Johnson & Johnson (aneka perawatan).

Alasan penutupan perusahaan tersebut beragam. Ada yang karena faktor internal, misalnya mengaku ordernya menurun, serta skala ekonominya terlalu kecil sehingga lebih efisien digabung dengan perusahaan di negara lain. Ada pula yang karena faktor eksternal, yakni biaya fiskal tinggi, hubungan industrial (perburuhan) dianggap memberatkan, dan biaya siluman yang mahal.

Biaya Produksi
Seperti kita ketahui industri manufaktur di Indonesia masih dihadapkan pada biaya yang mahal, termasuk biaya sosial, serta situasi politik dan keamanan yang tak menentu. Semua itu bermuara pada biaya produksi yang membengkak dan mengurangi kemampuan perusahaan melayani pelanggannya secara lebih baik. ''Kalau di negara lain bahan baku tak masalah, tetapi di sini masih impor.''

Sebenarnya kondisi saat ini terutama sektor moneter makin membaik. Rupiah kian stabil, bunga bank turun, dan inflasi di bawah dua digit menjadi indikasinya. Hal yang dianggap memberatkan dunia usaha adalah soal fiskal di pusat dan daerah, misalnya pajak tinggi, peraturan berbelit, dan penegakan hukum lemah.

Kepergian Gillette bisa memberikan dampak negatif bagi calon investor PMA yang hendak berinvestasi di sini. Itu juga bisa menjadi renungan bagi pemerintah untuk lebih memperbaiki kekurangannya.

Menurut Deputi Bidang Pengembangan Iklim Penanaman Modal BKPM-Yus'an, Gillette resmi ingin mundur dari Indonesaia tahun 2000 tetapi baru diizinkan tahun 2001 setelah alasannya diterima. Dengan alas an logis yang dapat diterima mereka sulit mengembangkan produksinya di sini. Sangat tidak signifikan jumlahnya dibandingkan dengan produksi yang dihasilkan di Cina atau India, Dan juga karena investasi yang ditanamkan sangat kecil. Selain itu, sisa karyawannya di Indonesia akan dialihkan menjadi tenaga penjual setelah didirikan perusahaan distribusi.

Data BKPM menyebutkan investasi asing makin membaik. Periode Januari hingga Mei 2003 PMA yang antre masuk dan disetujui sebanyak 425 proyek dengan investasi 4,023 juta dolar AS. Di antaranya 100 proyek baru dari Jepang.
Selain itu, masih ada 121 proyek perluasan usaha PMA yang telah disetujui dengan nilai investasi 503,6 juta dolar AS.(wa-53)
sumber : http://www.suaramerdeka.com/harian/0306/14/eko8.htm

Investasi Gillette di China
Setelah hengkang dari Indonesia, Perusahaan Gillette memilih china sebagai tujuan Investasi selanjutnya, mereka memindahkan pabrik nya ke Negara China.
Mereka memilih China karena daya tarik Negeri Tirai Bambu itu. Dengan penduduk lebih dari satu miliar orang, China mempunyai potensi pasar yang amat menggiurkan. Produksi Gillette, misalnya, di China bisa mencapai delapan juta pieces. Disusul India dengan produksi sebanyak lima juta pieces.

Bandingkan dua angka tersebut dengan produksinya di Indonesia yang hanya 2,5 juta pieces.
Selain itu, salah satu penyebab hengkangnya Gillette adalah tingginya pungutan pajak. Hanya saja, tentu ada faktor lain yang turut berkontribusi dan menyebabkan PMA tadi tak kerasan menanamkan modalnya di Indonesia.

Sudah menjadi rahasia umum, industri manufaktur di Indonesia selalu dihadapkan pada pengurusan perizinan yang berbelit-belit, tingginya biaya produksi, ongkos sosial hingga situasi politik, keamanan, dan penegakan hukum yang tak menentu, dan belum mampu menjamin iklim berinvestasi secara kondusif.

Rumitnya pengurusan izin disebabkan banyaknya instansi yang diberi kewenangan. Padahal, masalah kewenangan ini sering terkait ke soal rezeki alias ada tidaknya uang pelicin (suap). Bila calon investor asing atau dalam negeri tak tak mau memberikan uang suap setiap mengurus izin, jangan harap surat permohonan izinnya bisa cepat beres. Mereka harus sabar menunggu hingga berbulan-bulan. Kalau pun selesai, belum tentu surat izin tadi sudah ada tanda tangan pejabat yang berwenang. Ironisnya, besar kecil nilai suap itu bergantung pada besar kecilnya nilai investasi yang akan ditanamkan.
Masalah uang sogok dan semacamnya ini menggambarkan bagaimana sebenarnya sistem hukum Indonesia dijalankan.
Sumber : http://www.mail-archive.com/mediacare@yahoogroups.com/msg21068.html

0 komentar:

Post a Comment

Silahkan berikan komentar, kritik, saran serta tambahan untuk tulisan diatas....

Related Posts with Thumbnails